Greenland dan Pecah Kongsi Aliansi NATO

Greenland dan Pecah Kongsi Aliansi NATO

ILUSTRASI Greenland dan Pecah Kongsi Aliansi NATO.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Program itu membuktikan bahwa Eropa mampu mengintegrasikan sumber daya finansial, keunggulan teknologi, dan kepentingan strategis lintas negara untuk menciptakan sistem senjata canggih secara mandiri. 

Dalam konteks ini, Greenland berpotensi menjadi arena uji coba tidak langsung bagi penerapan hasil konsolidasi tersebut, yakni Eropa ingin menegaskan kapasitasnya dalam menghadapi ancaman tanpa harus bergantung pada payung perlindungan Pasal 5 NATO yang kian rapuh.

Lebih jauh lagi, ketidakpastian mengenai masa depan aliansi transatlantik juga membuka ruang bagi terbentuknya format keamanan baru. Uni Eropa mulai serius mempertimbangkan kerangka kerja sama militer yang lebih independen. 

Sementara itu, negara-negara Nordik dan mitra di kawasan Indo-Pasifik seperti Jepang dan Australia dapat menjadi bagian dari format keamanan alternatif yang lebih adaptif. Greenland, dengan posisinya yang sangat strategis di persimpangan benua, bisa menjadi titik temu bagi aliansi baru yang tidak lagi didikte oleh dominasi Washington.

Semangat untuk membangun kekuatan NATO Eropa tanpa Amerika Serikat kini mendapatkan momentum politik yang kuat melalui European Defence Industrial Strategy. 

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen telah berulang kali menegaskan perlunya strategi industri pertahanan terpadu untuk mempercepat produksi senjata dan amunisi secara mandiri. 

Perusahaan besar seperti Dassault Aviation, Airbus Defence & Space, MBDA, Thales, Naval Group, Safran, dan Indra kini menjadi tulang punggung dari upaya konsolidasi industri tersebut.

Aliansi industri itu bukan sekadar proyek birokratis untuk bagi-bagi keuntungan, melainkan telah menjadi kebutuhan eksistensial. 

Dengan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, Eropa berupaya memastikan kemandirian mereka dalam menghadapi berbagai spektrum ancaman, termasuk kemungkinan terburuk jika harus berhadapan dengan ambisi Amerika Serikat di Greenland. 

Narasi strategic autonomy yang digagas Paris dan Berlin kini menemukan relevansinya. Keterlibatan Spanyol melalui Indra juga memperlihatkan bahwa upaya itu bersifat inklusif dan melibatkan aktor-aktor kunci lain di Eropa sehingga memperkuat legitimasi politik proyek bersama tersebut.

Jika kita memproyeksikan situasi itu ke depan, implikasi geopolitik dalam lima tahun mendatang akan sangat signifikan. Greenland diprediksi bakal tetap menjadi pusaran konflik yang menandai pergeseran arsitektur keamanan global. 

Amerika Serikat akan terus berupaya menguasai wilayah itu melalui kombinasi instrumen hard power dan soft power, sedangkan NATO Eropa akan terus bergulat dengan dilema eksistensial mengenai efektivitas aliansi mereka.

Namun, variabel yang membuat situasi makin kompleks adalah manuver dari aktor-aktor lain. Fakta bahwa Kanada mulai menjalin kerja sama dengan Beijing membuka celah bagi perluasan pengaruh Tiongkok di Arktik. Hal tersebut tentu mengejutkan banyak pihak lantaran posisi tradisional Kanada. 

Lebih mengejutkan lagi adalah munculnya wacana penjajakan aliansi atau dialog strategis antara Uni Eropa dengan Rusia sebagai respons pragmatis untuk mengimbangi dominasi Amerika Serikat yang kian tidak terprediksi.

Jika tren pergeseran aliansi dan konsolidasi industri mandiri itu terus berlanjut tanpa hambatan, periode lima tahun ke depan sangat berpotensi menjadi saksi sejarah runtuhnya solidaritas transatlantik yang telah bertahan selama lebih dari tujuh dekade. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: