Anak Bunuh-Bakar Ibu sampai Gosong di Mataram: Fenomena Lambat Dewasa
ILUSTRASI Anak Bunuh-Bakar Ibu sampai Gosong di Mataram: Fenomena Lambat Dewasa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Anak Bunuh Ayah di Ngawi, Tinjauan Kriminologi
Pada bagasi belakang polisi menemukan bercak darah yang sudah kering. Polisi mengambil sampel darah itu. Diperiksa lebih teliti, polisi menemukan 300 gram ganja dibungkus di kemasan permen karet.
Kini Bara diinterogasi. Soal ibunya. Dalam interogasi awal, Bara sudah mengakui membunuh ibunya. Polisi memperdalam interogasi.
Kombes Kholid: ”Berdasarkan pengakuan tersangka, ia membunuh korban saat korban tidur di kamar pada Minggu, 25 Januari 2026, sekitar pukul 02.30. Caranya, menjerat leher korban dengan tali. Pelaku memastikan sampai korban meninggal dunia.”
Setelah Yeni meninggal, pelaku tidur, membiarkan mayat Yeni tetap di ranjang.
Senin, 26 Januari 2026, sekitar pukul 08.00, Bara membungkus mayat Yeni dengan seprai putih yang biasa dipakai Yeni. Kemudian, mayat diangkat Bara, dimasukkan ke bagasi mobilnya. Mobil pun berangkat.
Bara sudah tahu tujuannya. Ia beli Pertalite. Kemudian, menuju tempat sepi warga di wilayah Sekotong. Mobil berhenti, mayat Yeni dibuang di tumpukan sampah. Lalu, disiram Pertalite. Dibakar.
Kholid: ”Pelaku tidak segera pergi. Ia menunggu di situ sekitar sejam, untuk memastikan api tidak padam. Jadi, jasad korban terbakar lebih dari sejam. Setelah itu, pelaku pulang ke rumahnya.”
Esok paginya, Bara lapor kehilangan ibunya ke Polsek Selaparang.
Di sisi lain, beberapa jam setelah Bara lapor polisi, tim Inafis Polres Lombok Barat berhasil mengidentifikasi mayat Yeni. Lalu, tim polres mendatangi alamat korban. Kebetulan, Bara lapor kehilangan ibu. Jadinya klop, terkoneksi.
Di kasus itu sebenarnya adu cepat antara kecepatan rekayasa alibi pelaku dan kinerja tim Inafis. Hasilnya, kebetulan hampir sama cepat. Dengan begitu, pelaku terjebak oleh rekayasanya sendiri.
Motifnya duit. Kholid: ”Tersangka punya utang kepada pihak lain. Kemudian, ia minta uang ibunya Rp39 juta untuk membayar utang itu. Tidak diberi. Tersangka dendam, lalu membunuh ibunya.”
Siapa Bara?
Tetangga yang biasa dipanggil Mas Owi, kepada wartawan, mengungkap, Bara Primario panggilannya Rio. Ia wiraswasta, punya toko kebutuhan masyarakat sehari-hari. Cukup berduit sehingga bisa membeli mobilnya itu.
Owi: ”Rio rajin salat. Setiap azan berkumandang, ia segera menuju masjid untuk salat lima waktu berjamaah, tak pernah telat. Makanya, kami warga di sini kaget Rio ditangkap polisi karena membunuh ibunya.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: