Fenomena Childfree dan Menurunnya Angka Kelahiran 2026
Angka kelahiran Indonesia menurun pada 2026, memicu tren childfree di kalangan pasangan muda. Pilihan hidup tanpa anak ini dipengaruhi faktor ekonomi, karier, dan perubahan gaya hidup generasi muda.-Redbubble-pinterest
Mereka mempertimbangkan biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan dasar yang terus meningkat setiap tahun.
Penurunan angka kelahiran lebih mencerminkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan besar. Bukan sekadar mengikuti tren.
BACA JUGA:Tip Co-Parenting, Kenali Inner Child Orang Tua untuk Berikan Rasa Nyaman Pada Anak
Childfree: Antara Pilihan dan Stigma

Childfree menjadi pilihan hidup sebagian pasangan muda di Indonesia, namun masih dihadapkan pada stigma sosial dan perdebatan nilai keluarga modern.-Readbubble-pinterest
Gaya hidup childfree memang semakin sering diperbincangkan secara terbuka. Media sosial memberi ruang bagi pasangan untuk menyuarakan pilihan hidup mereka, sesuatu yang sebelumnya jarang dilakukan karena tekanan norma sosial.
Namun, secara jumlah, pasangan childfree masih tergolong minoritas. Lebih sedikit dibanding mereka yang hanya menunda memiliki anak.
Diskursus childfree memunculkan perdebatan tajam di masyarakat. Ada yang melihatnya sebagai bentuk kebebasan individu.
Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pilihan itu dapat berdampak pada struktur demografi jangka panjang. Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa childfree adalah refleksi perubahan nilai dalam masyarakat modern.
BACA JUGA:Awet Muda Ala Gitasav yang Viral: Childfree!
BACA JUGA:Tidak Mau Nikah Muda Bukan Berarti Trauma: Menantang Narasi Hidup Ideal ala Orang Tua
Faktor Ekonomi dan Biaya Hidup

Faktor ekonomi dan kenaikan biaya hidup di Indonesia pada 2026 memengaruhi keputusan finansial masyarakat serta pola konsumsi rumah tangga.-TNT Grupacija-pinterest
Salah satu faktor paling dominan dalam penurunan angka kelahiran adalah tekanan ekonomi. Harga rumah semakin tinggi. Biaya pendidikan pun mahal.
Juga ketidakpastian pekerjaan. Itu membuat banyak pasangan menunda rencana memiliki anak. Di kota-kota besar, membesarkan anak dianggap sebagai komitmen finansial jangka panjang yang tidak ringan.
Kondisi itu diperkuat oleh perubahan pola kerja. Seperti meningkatnya pekerja kontrak dan freelancer yang pendapatannya tidak selalu stabil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: