RSUD Dr. Soetomo Manfaatkan Stereotactic Brain Lesion untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Parkinson

RSUD Dr. Soetomo Manfaatkan Stereotactic Brain Lesion untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Parkinson

Operasi Stereotactic Brain Lesion (SBL) yang dilakukan tim bedah RSUD Dr.Soetomo pada Rabu, 28 Januari 2026-Humas RSUD Dr. Soetomo-Humas RSUD Dr. Soetomo

“Nyeri, di tangan,” ujar pasien kepada Fahmi. 

Pukul 16.30 WIB, operasi selesai. Kepala pasien dijahit oleh dokter. Saat itu, tangan pasien sudah anteng, seperti orang normal. Operasi berhasil menghilangkan getaran hebat pada tangan.

BACA JUGA: Mengenal Sensitisasi Saraf, Ketika Sakit Punggung Biasa Jadi Lebih Menyakitkan dan Menyiksa

BACA JUGA: Kebutuhan Tinggi, Stok Darah RSUD Dr. Soetomo Menipis


ACHMAD FAHMI menerangkan detail operasi yang dipimpinnya kepada Harian Disway saat ditemui Rabu, 28 Januari 2026. -Humas RSUD Dr. Soetomo-Humas RSUD Dr. Soetomo

Sebagai dokter bedah saraf, Fahmi menjelaskan bahwa Parkinson adalah gangguan neurodegeneratif. Namanya diambil dari orang yang pertama kali mengenali gejala tersebut pada 1817, James Parkinson.

Parkinson ialah kerusakan pada substantia nigra pars compacta, bagian otak yang berfungsi menghasilkan neurotransmiter dopamin. 

“Dopamin ini fungsinya menstabilkan gerakan. Pada pasien Parkinson, pabrik dopaminnya rusak, sehingga muncul gejala seperti tremor, kaku, dan gerakan melambat,” paparnya. 

Penyakit Parkinson kerap berdampak besar pada kualitas hidup pasien. Banyak pasien mengalami kesulitan makan, berjalan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA: RSUD Dr. Soetomo Siaga Nataru 2025, Siapkan 804 Tenaga Cadangan Antisipasi Lonjakan Pasien

BACA JUGA: RSUD Dr Soetomo Surabaya Sukses Selesaikan Survei Re-Akreditasi KARS 2025

“Pilihan pertama tetap obat-obatan. Tapi Parkinson sampai sekarang belum bisa disembuhkan. Obat hanya mengontrol gejala,” ujarnya. 

Jika obat-obatan tidak ada hasil optimal, pasien Parkinson akan dirujuk untuk menjalani tindakan lanjutan. Yakni, operasi SBL. 

SBL dilakukan dengan membuat lubang kecil di kepala. Elektroda diameter 1,1 milimeter ke titik tertentu di otak. Prosedur operasi itu menggunakan bius lokal sehingga pasien tetap sadar.

“Pasien bisa langsung merasakan manfaatnya saat operasi. Tremor bisa langsung berhenti, kekakuan berkurang,” terang Fahmi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: