RSUD Dr. Soetomo Manfaatkan Stereotactic Brain Lesion untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Parkinson
Operasi Stereotactic Brain Lesion (SBL) yang dilakukan tim bedah RSUD Dr.Soetomo pada Rabu, 28 Januari 2026-Humas RSUD Dr. Soetomo-Humas RSUD Dr. Soetomo
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Data Global Burden of Disease (GBD) dalam jurnal BMJ Open menunjukkan peningkatan jumlah penderita Parkinson secara global. Kenaikannya lebih dari tiga kali lipat dalam periode 1990-2021.
Mayoritas penderita penyakit itu adalah kelompok lanjut usia, di atas 60 tahun. Fenomena tersebut menuai keprihatinan RSUD Dr. Soetomo Jawa Timur.
Apalagi, hasil penelitian Universitas Brawijaya pada 2023-2024 menunjukkan bahwa usia pasien Parkinson di Jawa Timur rata-rata 50-80 tahun. "Sejumlah kasus terjadi pada pasien berusia 40-50 tahun," tulis tim peneliti.
Sebagai lembaga dengan reputasi dunia, RSUD Dr. Soetomo yang merupakan World Class Medical Academic Centre, melahirkan inovasi terkait Parkinson. Salah satunya adalah tindakan stereotactic brain lesion (SBL).
BACA JUGA: Parkinson Bukan Akhir Segalanya: Mengenali, Memahami, Mendampingi
BACA JUGA: Manfaat Smartwatch untuk Kesehatan, Mampu Deteksi Dini Penyakit Jantung dan Parkinson
Harian Disway berkesempatan menyaksikan operasi pasien Parkinson di ruang bedah RSUD Dr. Soetomo pada Rabu, 28 Januari 2026. Pasiennya seorang pria lanjut usia dari Palembang.
Saat memasuki ruang operasi yang dipimpin Dr. dr. Achmad Fahmi, Sp.BS (K) Subsp.NF, FINPS tersebut, tangan pasien bergetar hebat. Itu merupakan gejala utama yang ditunjukkan pasien Parkinson.
Operasi dimulai pukul 15.33 WIB. Pasien menjalani operasi dengan bius lokal. Di tengah operasi, dokter menggunakan alat stereotaktik untuk menentukan titik target di otak secara presisi.
Beberapa kali, pasien diminta mengikuti instruksi dokter. "Kepalkan tangan," kata dokter. Pasien mengikuti instruksi tersebut. Selanjutnya dokter meminta pasien mengangkat tangan.
BACA JUGA: Empat Faktor Penyebab Parkinson dan Risiko Gangguan Neurodegeneratif
"Hitung mundur dari angka 10 sampai 1," lanjut dokter. Pasien menjalankan instruksi tersebut. Ia kemudian diminta menuliskan kata Surabaya dan menggambar bentuk bulat di atas kertas yang dipegang dokter.
Instruksi tersebut dilakukan untuk mengevaluasi ketepatan lokasi tindakan. Pasien aktif merespon saat dokter bertanya apakah ada rasa nyeri atau tidak nyaman di tangan atau kepalanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: