Merawat Rumah Bersama dengan Akal Budi

Merawat Rumah Bersama dengan Akal Budi

ILUSTRASI Merawat Rumah Bersama dengan Akal Budi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BENCANA banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, 26 November 2025, menjadi cermin hidup bagi kita semua. Data menunjukkan, sampai 5 Januari 2026, sebanyak 1.177 orang meninggal, 148 orang hilang, dan sedikitnya 2.600 orang luka-luka. Selain itu, tercatat 3,3 juta jiwa terdampak BENCANA tersebut. 

Adapun rumah rusak mencapai 178.479 rumah, terdiri atas 52.303 rumah rusak berat, 43.933 rumah rusak sedang, dan 82.243 rumah rusak ringan.

Selain di Aceh dan Sumatera, kabar bencana serupa hadir dari Kalimantan Selatan. Data BPBD Kalsel, banjir yang menimpa 27 Desember 2025 hingga awal Januri 2026 itu meluas hingga 10 dari 13 kabupaten atau kota. Meliputi Balangan, Banjar, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tanah Laut, Tabalong, Banjarbaru, dan Banjarmasin.

Kita juga dengan mudah menemukan berita tentang banjir di berbagai daerah lain. Misalnya, di Jakarta dan sekitarnya Senin, 12 Januari 2026. Laman media sosial dipenuhi dengan kabar banjir di ruas tol menuju Bandara Soekarno-Hatta. Kepungan banjir pun merata di berbagai wilayah Jakarta. Bahkan, ruas tol dibuka untuk membantu pengendara jalan melintas menuju tempat kerja dan rumah. 

Bencana itu bukan salah alam. Bencana tersebut bukan salah curah hujan yang tinggi. Namun, menjadi potret kerakusan manusia. 

Manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi (fi al-ardhi) menampakkan wajah sok perkasa. Manusia merusak dan menghancurkan bumi. Padahal, sebenarnya di semesta raya, manusia sebagai makhluk biologis (basyar, Q.S. Al-Kahfi (18): 110) sangat lemah. 

Manusia dapat diempas dengan seketika oleh alam. Manusia itu sangat kecil di hadapan semesta. Namun, makhluk basyar itu sering kali lupa akan penciptaan. Mereka seakan ingin berkuasa di atas muka bumi. Padahal, mereka sangat lemah dan tak berdaya. 

Ironisnya, kerakusan manusia itu terus menjadi ”budaya”. Deforestasi seakan menjadi hal wajar. Selama periode 1990–2022 tercatat di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara, telah terjadi deforestasi seluas 70.000 hektare atau sekitar 21 persen dari luas DAS. 

Luas hutan alam yang tersisa hanya 167.000 hektare atau 49 persen dari luas DAS (Kompas, 3 Desember 2025).

Maka, tidak heran jika kayu gelondongan meluncur bersama derasnya air bah. Kayu-kayu itu merusak rumah, jalan, jembatan, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Ironisnya, pemerintah acap kali menyangkal bahwa kayu itu memang lapuk dan terbawa arus air. 

Padahal, jelas terlihat kayu itu kuat dan tertera nomor dan kode ”pemilik”. Bahkan, kini tersiar kabar bahwa ada pihak-pihak yang sengaja mengambil kayu besar dan dibawa dengan truk muatan. Masyarakat pun hanya dapat melihat di tengah ketidakmampuan negara menindak para pembalak. 

NARASI AGAMA

Lebih lanjut, merusak alam pun dianggap sebagai hal biasa. Dengan dalih ”memanfaatkan” sumber daya alam, manusia terus menjadi bagian laju pelapukan. Bahkan, ada tokoh intelektual (agama) dengan lantang mengatakan ”mengapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal (alam)?”. 

Sebuah pertanyaan yang mengusik kewarasan alam bawah sadar. Sebuah ungkapan yang dibalut dalam tradisi/narasi agama itu pun seakan mengokohkan agama menjadi ”komoditas”. Agama menjadi alat transaksi demi menumpuk uang dan rupiah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: