Merawat Rumah Bersama dengan Akal Budi
ILUSTRASI Merawat Rumah Bersama dengan Akal Budi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Profesor M. Amin Abdullah menyebut perilaku itu sebagai membuang agama ke keranjang sampah. Harga agama begitu murah yang dipertaruhkan dengan material yang tak seberapa demi kepentingan pribadi dan golongan.
Agama menjadi mainan dan cenderung ditafsirkan sesuai selera pribadi dan kelompok. Ironisnya, agama juga dipakai sebagai alat untuk menyerang kelompok lain yang tidak sepaham. Tuduhan Wahabi lingkungan dan segala atribut lainnya begitu mudah meluncur dari mulut dan lidah ”penafsir ajaran agama”.
Kilah itulah yang kini dibayar lunas oleh alam. Alam menunjukkan wajah kesejatian mengingatkan manusia agar tidak sombong. Ratusan orang meninggal dunia dalam sekejap, ribuan rumah tertimbun oleh material longsor, tumbuhan dan hewan pun tak luput menjadi korban, serta pemulihan ekosistem hidup yang terkendala dan sederet kerugian lainnya.
AKAL BUDI
Kondisi itu mengingatkan petuah luhur dalam tradisi Jawa. Manusia dilarang untuk adigang adigung adiguna. Manusia tak layak menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian di hadapan alam. Walaupun manusia dibekali dengan sifat (an-nas, makhluk sosial dengan seribu satu kreativitas), kesombongan itu hanya akan meninggalkan pilu.
Menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian kepada alam dengan segala dalih hanya akan melahirkan malapetaka. Malapetaka yang akan terus dikenang dalam pilu dan duka. Itulah potret manusia yang tetap menjadi bagian kecil dalam ekosistem alam.
Manusia sebagai khalifah perlu menampilkan wajah kebajikan dengan hidup berdampingan dengan alam. Al Gore dalam Our Choice pernah bertanya dan menegaskan satu hal. ”Mengapa umat manusia gagal menghadapi ancaman mematikan yang belum pernah terjadi?”. Pertanyaan itu kemudian dijawab Al Gore sendiri dengan perlunya mengarusutamakan akal budi.
Akal budi perlu terus tersemai dalam kesadaran kemanusiaan manusia. Akal budilah yang akan menuntut manusia menuju jalan keadaban, yaitu memimpin bumi dengan kebajikan. Akal budi pun dapat menggerus kerakusan manusia. Akal budi adalah suluh yang hidup dalam pikiran dan tindakan manusia sebagai makhluk istimewa ciptaan Tuhan.
Oleh karena itu, tidak pantas manusia menyalahkan hujan sebagai anugerah dari Tuhan. Hujan menjadi mekanisme alam memperbaiki cadangan air dalam tanah. Hujan pun menjadi tanda kasih sayang Tuhan. Pasalnya, saat hujan adalah waktu yang baik untuk berdoa dan bermunajat kepada Tuhan. Melalui air hujan, Allah menumbuhkan, hujan pun menjadi penanda kehidupan baru.
Mengutuk hujan turun menjadi penanda bahwa manusia tidak pernah becermin kepada bumi. Manusia lupa bahwa bumi sudah kian rusak karena ulah tangan makhluk yang dibekali akal oleh Tuhan. Kerusakan bumi sebagai rumah manusia menjadi alarm nyata kepunahannya.
Rumah bersama itu perlu kita rawat dengan nalar yang bijak. Menghentikan narasi kepongahan diri, apalagi dengan membajak etik agama, menjadi sebuah keniscayaan. Saatnya manusia merenungi perbuatan salah (baca: dosa) agar peri kehidupan tetap lestari. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: