Watak Imperialis Amerika Serikat yang Tak Pernah Berubah

Watak Imperialis Amerika Serikat yang Tak Pernah Berubah

ILUSTRASI Watak Imperialis Amerika Serikat yang Tak Pernah Berubah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Amerika Serikat Alami Inflasi Tertinggi, Ekonomi Global Terancam

Film Killers of the Flower Moon memberikan gambaran nyata bagaimana watak imperialis yang bengis itu bekerja. Berlatar kisah pada era 1920-an. Warga suku Osage di Oklahoma yang kaya raya karena penemuan minyak dibantai secara sistematis melalui konspirasi berdarah. 

Orang-orang kulit putih Amerika melakukan aksi teror, manipulasi hukum, hingga pembunuhan demi merampas kekayaan tanah Indian. Itu adalah bukti bahwa semangat kolonialisme Anglo-Saxon tidak hanya menargetkan negara jauh, tetapi juga tega ”memangsa” warga aslinya sendiri demi perluasan wilayah kekuasaan dan akumulasi kekayaan. 

Saat ini, di bawah pemerintahan Donald Trump dengan mengusung kebijakan America First, dampak dari watak imperialis tersebut tidak hanya dirasakan negara-negara lain yang menjadi target, tetapi juga mulai dirasakan rakyat AS sendiri. 

IMPERIALISME AMERIKA SERIKAT PADA ABAD MODERN

Terlalu panjang jika menuliskan satu per satu bentuk imperialisme dan kolonialisme AS pada abad modern. Ketegangan politik internasional yang sangat tragis bisa dilihat dari dua kisah ini: jatuhnya Presiden Irak Saddam Hussein dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh tentara AS. 

Melakukan agresi militer ke wilayah kedaulatan negara lain dengan dalih yang sama: menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia. Meski, pada kenyataannya, Gedung Putih ingin menguasai sumber daya ekonomi negara tersebut. 

Invasi militer ke Irak tahun 2003 adalah bukti nyata. Berdasar data dari Brown University, perang Irak mengakibatkan kematian lebih dari 200.000 warga sipil. Irak sebagai negara merdeka dan anggota PBB diobrak-abrik kedaulatannya oleh AS. 

Tak ada satu negara pun yang terang-terangan membela Irak. Misi berhasil, Saddam Hussein ditangkap, diadili oleh pengadilan atas restu AS, dan dihukum mati oleh rakyatnya sendiri. 

Nasib nahas juga dialami Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Meskipun, hingga hari ini nasib Maduro belum seburuk Saddam Hussein yang dihukum mati. 

Secara statistik, Amerika Serikat adalah negara yang paling aktif melakukan intervensi militer di luar wilayah kedaulatan mereka sendiri. Data statistik mencatat, AS telah melakukan ratusan kali pengerahan pasukan militer di luar negeri sejak 1990-an, termasuk ancaman serangan terhadap Iran yang terus dipelihara untuk menjaga hegemoni di kawasan Teluk.

DINAMIKA POLITIK DALAM NEGERI: REPRESI TERHADAP IMIGRAN

Dulu Amerika Serikat dianggap sebagai surga dunia. The American Dream, sebuah jargon untuk menunjukkan bahwa semua masyarakat dunia bermimpi bisa tinggal dan mewujudkan impiannya di AS. Saat ini, di bawah President Trump, The American Dream sepertinya berubah menjadi The American Nightmare. 

Paradoks sebagai negara yang bebas dan demokratis sepertinya sudah tidak layak disandang AS. Kita bisa melihat bagaimana brutalnya petugas dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) saat memburu para pendatang ilegal. 

Bukan hanya pendatang yang menjadi korban, banyak warga AS yang tewas ditembak oleh petugas ICE dengan dalih memburu imigran ilegal. Kebrutalan petugas ICE dan jatuhnya banyak korban memicu ketegangan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: