Peran Orang Tua dalam Pengawasan Digital dan Kejahatan Siber pada Anak

Peran Orang Tua dalam Pengawasan Digital dan Kejahatan Siber pada Anak

ILUSTRASI Peran Orang Tua dalam Pengawasan Digital dan Kejahatan Siber pada Anak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Sebab, algoritma akan menampilkan konten sesuai minat dan kebiasaan pengguna. Konten yang secara terus-menerus dikonsumsi itu dapat terinternalisasi dalam diri anak-anak. Yang berbahaya adalah ketika konten-konten tersebut merupakan konten yang sengaja diproduksi oleh para pelaku kejahatan siber.

Dalam hal ini, orang tua perlu mewaspadai ketika anak-anak mereka bermain gawai, apalagi jika anak terlibat dalam interaksi tertentu. 

Beberapa game online mengharuskan anak-anak berinteraksi dengan orang-orang di dalam jaringan yang sama yang tidak dikenal dan diketahui latar belakangnya. Termasuk ketika anak-anak terlibat interaksi di media sosial pada akun atau komunitas tertentu. 

Interaksi di game online maupun media sosial merupakan pintu masuk bagi para pelaku kejahatan siber untuk melakukan kejahatan seperti cyber grooming, pelecehan seksual, pemerasan, pornografi, cyber bullying, dan ideologi kekerasan. 

Dampaknya, anak-anak dapat mengalami eksploitasi secara seksual maupun ekonomi. Anak-anak tidak berdaya menghadapi para pelaku kejahatan siber yang sering kali merupakan orang dewasa. 

Anak-anak menjadi tidak berdaya ketika para pelaku kejahatan siber itu telah berhasil mempersuasi untuk melakukan hal yang menyimpang dari nilai dan ancaman untuk menyebarluaskan perilaku tersebut. 

Ancaman tersebut dapat menjadikan anak-anak mengalami eksploitasi berulang kali. Dampak kejahatan siber juga dapat mengubah perilaku anak-anak sebagaimana yang diinginkan pelaku kejahatan. Anak-anak dapat mengembangkan perilaku menyimpang, bahkan melawan orang tua sendiri hingga menarik diri dari lingkungan sosialnya.

PERLAWANAN NOMADIK

Pengawasan digital sering kali tidak dipahami dan disadari anak-anak, bahkan orang tua. Sebagai pengguna platform, baik anak maupun orang tua, sering kali tidak hanya menjadi pengguna aktif, tetapi juga aktif menjadi produsen data bagi pengawasan digital. 

Produksi data yang dilakukan melalui membagikan konten, membagikan minat dan seputar kehidupan pribadi di platform media sosial dan sebagainya. Secara aktif pengguna platform menjadikan pengalaman pribadi mereka menjadi pengalaman kolektif. 

Beberapa juga sangat aktif membagikan pengalaman anak-anak mereka di platform media sosial, baik karena bangga dengan anak yang dimiliki maupun untuk tujuan lain, yang semuanya bermuara pada produksi data digital yang makin mempermudah pengawasan. 

Hal tersebut mempermudah para pelaku kejahatan siber untuk menjadikan anak-anak sebagai target kejahatan. Untuk itu, perlu disadari bahwa perlawanan terhadap kejahatan siber yang mengintai anak-anak perlu dilakukan, baik oleh pemerintah maupun orang tua. 

Salah satu bentuk perlawanan yang dapat dilakukan adalah perlawanan nomadik. Perlawanan nomadik merupakan salah satu konsep dari Deleuze dan Guattari (1987). Yakni, perlawanan yang dapat dilakukan oleh siapa pun. 

Perlawanan nomadik dapat dilakukan dengan beberapa cara. 

Pertama, bagi pemerintah, dengan mengembangkan meta literasi digital di masyarakat agar masyarakat tidak hanya kritis, tetapi juga dapat menggunakan teknologi digital untuk melakukan perlawanan pada akun-akun pelaku kejahatan siber. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: