Pentol Kabul, dari Sepeda ke 97 Stan di Jawa Timur (1): Lulus SMA, Langsung Gas Pol

Pentol Kabul, dari Sepeda ke 97 Stan di Jawa Timur  (1): Lulus SMA, Langsung Gas Pol

KETEKUNAN MUKHLIS ketika membuat pentol di pabriknya. Merek Pentol Kabul yang digagasnya sudah mencapai puluhan gerai.-Narasumber untuk Harian Disway-

Ya, sekitar pukul 20.00 Mukhlis selesai berjualan. Apakah langsung beristirahat? Tentu tidak!

Setumpuk pekerjaan masih menanti. Yakni korah-korah (mencuci) wadah barang dagangannya. Pukul 22.00, ia menyudahi aktivitasnya dan beristirahat.

Begitulah rutinitas Mukhlis selama empat tahun selama berkuliah. 

Puncak kesibukan itu terjadi saat Mukhlis kuliah semester keempat. Ia mengaku lebih banyak fokus untuk berjualan. Tantangannya: tugas kuliah. Ya, di semester itu, tugas kuliah sedang banyak-banyaknya.

Mukhlis sempat ingin mrothol di semester lima. Tapi, sang kakak melarang. Mukhlis terus digenjot semangatnya untuk kuliah.

Akhirnya, pendidikan itu rampung pada Oktober 2012. Lepas sudah satu tanggung jawab Mukhlis. 


MENIKMATI KESUKSESAN, Muklis berfoto di depan Gedung Opera Sydney, Australia.-Narasumber untuk Harian Disway-

Ia pun mengambil langkah besar. Tidak lagi tinggal bersama sang kakak di Mojokerto. Yang dipilihnya adalah Sidoarjo.

Mukhlis tinggal sendiri, dan di situlah ketekunannya kembali diuji.

Ia kembali berjualan dengan sepedanya. Dalam waktu singkat, Mukhlis tak lagi sendirian. Pada 2013, ia sudah punya sepuluh anak buah. Omzet harian yang awalnya Rp300 ribu, membengkak jadi Rp1,5 juta. Tapi, Mukhlis tak puas. Ia ingin lebih.  

Setahun kemudian, Mukhlis kembali mengambil risiko. Ia menyewa teras swalayan di Tanggulangin. Lima bulan pertama, Mukhlis rugi.

"Orang belum kenal. Tapi saya yakin bisa untung. Caranya, ambil untung sedikit, nanti omzetnya besar," katanya. Strateginya jitu. Bulan keenam, omzet melesat jadi Rp1 juta per hari.  


SALAH SATU GERAI Pentol Kabul yang dikembangkan oleh Mukhlis hingga puluhan cabang.-Narasumber untuk Harian Disway-

Di situlah Mukhlis menemukan formula ajaibnya: standarisasi. Ia riset dan membuat mesin cetak pentol agar ukuran seragam. "Saya mungkin yang pertama bikin mesin cetak sendiri," ujarnya bangga.

Dengan mesin itu, ekspansi dimulai. Pada 2015, tiga stan baru dibuka di Sidoarjo Kota, Wonoayu, dan Lebo. Dalam dua bulan, omset langsung tembus Rp1 juta per stan per hari.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: