Pentol Kabul, dari Sepeda ke 97 Stan di Jawa Timur (1): Lulus SMA, Langsung Gas Pol
KETEKUNAN MUKHLIS ketika membuat pentol di pabriknya. Merek Pentol Kabul yang digagasnya sudah mencapai puluhan gerai.-Narasumber untuk Harian Disway-
Ada ungkapan berbunyi, “Hasil tak pernah mengkhianati proses.” Kalimat itu cocok untuk Muhammad Mukhlis saat ini. Dulunya, ia pedagang pentol keliling. Tapi sekarang sukses menjadi bos pentol 97 stan di Jawa Timur. Nama produknya, Anda sudah tahu: Pentol Kabul.
KISAH Muhammad Mukhlis memang tentang disiplin yang ’’nyaris tak manusiawi.’’ Juga tentang keberanian mengambil risiko saat orang lain berhenti. Ia berkeyakinan bahwa “Kerja, kerja, kerja!” bukan sekadar slogan. Tapi harus diwujudkan. Sehingga, sukses yang didambakannya itu ada dalam genggaman.
Mukhlis muda memulai perjuangannya dari Jombang pasca lulus SMA pada 2008. Sebenarnya, Mukhlis ingin melanjutkan studinya ke Universitas Brawijaya. Tapi, apa daya uang yang dikumpulkannya masih belum cukup. Ia pun memilih ikut kakaknya dan kuliah di Universitas Islam Majapahit, Mojokerto.
“Waktu itu buat daftar di Brawijaya itu Rp7 juta, tapi uangku cuma Rp2 juta. Jadi, saya memutuskan ikut kakak ke Mojokerto buat kuliah sekalian kerja,” katanya saat dihubungi Harian Disway, Rabu, 4 Februari 2026.
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Pemilik Usaha Pentol Kabul M. Mukhlis: Qian Li Zhi Xing, Shi Yu Zu Xia
Meski impiannya pupus, Mukhlis tak mengeluh. Ia tetap menjalani harinya dengan kuliah sambil bekerja.
Mukhlis pun merancang jadwal ’’sinting.’’ Setelah subuh, sekitar pukul 04.00, ia bangun dan berangkat ke Pasar Krian untuk membeli daging. Setelah itu, langsung pulang dan bersiap membuat pentol (bakso). Mulai mencetak hingga membuat saus.
Mukhlis juga memberi tenggat pada dirinya sendiri. Pukul 07.00 sudah harus rampung menyiapkan dagangan.
Selepas itu, ia mandi dan berangkat kuliah. Sebab, pukul 08.00 kelasnya sudah dimulai.
Begitu kuliah kelar pukul 11.00, Mukhlis bergegas pulang. Siap jualan pentol lagi.
Jam kerjanya dimulai pukul 12.00. Tidak memakai motor. Tapi menunggang sepeda onthel.
“Ya, saya ngontel sampai Desa Sawahan dan Sarirejo. Totalnya sekitar delapan jam,” terang Sarjana Manajemen itu.

Muhammad Mukhlis (kanan) bersama founder Harian Disway, Dahlan Iskan, saat mengikuti Disway Explore Business Jawa Timur 2026.-Narasumber untuk Harian Disway-
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: