Pentol Kabul, dari Sepeda ke 97 Stan di Jawa Timur (1): Lulus SMA, Langsung Gas Pol
KETEKUNAN MUKHLIS ketika membuat pentol di pabriknya. Merek Pentol Kabul yang digagasnya sudah mencapai puluhan gerai.-Narasumber untuk Harian Disway-
Kemudian, pada 2016, Mukhlis memasang target gila. Setiap kecamatan di Sidoarjo harus punya stan Pentol Kabul dalam setahun. Hasilnya tak main-main. Ya, targetnya dalam setahun itu tercapai. Buktinya di Krian ramai, bahkan ada dua stan di sana.
Mukhlis pun merambah area Kabupaten Malang. Yang ditujunya adalah Lawang, Singosari, hingga Wendit. "Orang di Lawang bilang, 'Ini pentol Kabul yang viral di Sidoarjo, ya?' Branding sudah jalan sendiri," katanya.
Covid-19 justru jadi berkah tak terduga. Banyak orang PHK beralih jadi penjual pentol Kabul dengan sistem mengambil barang langsung darinya. "Kami kasih harga murah. Mereka jual sendiri, kami untung dari volume," jelasnya.
Jaringannya melebar ke Gresik, Lamongan, hingga Bondowoso. Kini, 97 stan berdiri di seluruh Jawa Timur. Dari pesisir Lamongan hingga perbatasan Kediri.
Di balik kesederhanaan itu tersimpan filosofi hidup yang ia serap dari tulisan Dahlan Iskan semasa ia menjadi Menteri BUMN: Kerja, kerja, kerja. “Setiap Senin saya selalu baca tulisannya. Harus baca dua kali. Karena kalau sekali, sayanya enggak paham. Jadi, mindset itu yang membentuk saya," katanya.
Ada satu kalimat yang ia pegang sejak 18 tahun lalu, “Dalam bisnis, tak ada alasan untuk berhenti. Meski hujan, saya harus tetap jualan.”
Hujan boleh turun, tapi pentol harus tetap tercetak. Dan impian harus terus direbus hingga matang sempurna. (*)
Misi Pusatkan Bisnis di Sidoarjo. Baca besok...!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: