CommTECH Camp Insight 2026, SMP YPPI 1 Paparkan Pemanfaatan Daun Gedi di Depan Mahasiswa Asing 10 Negara

CommTECH Camp Insight 2026, SMP YPPI 1 Paparkan Pemanfaatan Daun Gedi di Depan Mahasiswa Asing 10 Negara

Keasikan para peserta asing dalam kegiatan CommTECH Camp Insight 2026, di halaman SMP YPPI 1, Kamis, 12 Februari 2026. -Rossa Handini-Harian Disway

Pun, produk batik gedi karya para siswa memiliki motif khas. Yakni daun gedi. Batik tersebut menjadi produk unggulan SMP YPPI 1. Bahkan telah mendapat Hak Cipta dari Kemenkumham.

Sedangkan air limbah lilin sisa produksi batik gedi aman bagi lingkungan. Itu diletakkan di dalam kolam sekolah yang terdapat tanaman eceng gondok.

Bagi Titris, kegiatan itu dapat melatih jiwa entrepreneurship siswa. Selain pengolahan sisa limbah batik, SMP YPPI 1 menyajikan para tamu dengan produk buatan sendiri.

BACA JUGA:Ascott Waterplace Surabaya Gelar World Environmental Education Day, Olah Limbah Rumah Tangga untuk Lestarikan Alam

BACA JUGA:Soap for Hope Ajarkan Siswa SD Mendaur Ulang Sabun Hotel

Yakni D’ Gedi Food. Terdiri dari: siomay gedi, nasi bakar gedi, G-Stick (olahan makanan stik berbahan daun gedi) dan G-Fit (olahan minuman berbahan buah mengkudu).

Pun, mereka menyediakan sinom. Bahan dasarnya diambil dari green house sekolah. Para tamu juga dikenalkan langsung kerajinan buatan siswa.

Seperti kertas daur ulang gedi, yang memanfaatkan daun gedi sebagai bahan utama untuk pembuatan kertas. 


Peserta asal kanada menjelaskan pengalamannya dalam membuat kerajinan papan-Rossa Handini-Harian Disway

Kertas gedi memiliki keunikan tersendiri. Yakni dari segi tekstur dan aroma. Aromanya cenderung lebih harum dibandingkan kertas lain. Pun, telah mendapat hak cipta.

BACA JUGA: Pohon Natal Bahan Daur Ulang Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata

BACA JUGA:Raksasa Perhiasan Global Manfaatkan Logam Daur Ulang untuk Kurangi Jejak Karbon

Mahasiswa dan dosen asing juga praktik langsung melukis. Mereka menggunakan teknis melukis di media papan kayu (pyrography). Kemudian melukis dengan menggunakan alat pemanas atau solder untuk membuat pola gambar.

Hari itu, para mahasiswa dan dosen asing mendapat insight menarik. Tentang bagaimana pengelolaan limbah menjadi karya seni dan bernilai jual. Berkelanjutan sekaligus ramah lingkungan. (*)

*) Mahasiswa magang dari Kemnaker RI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: