Upaya Indonesia Mengontrol Harga Nikel Global: Dalam Sehari, Harga Meroket
PEKERJA SMELTER Harita Nichel beraktivitas di pabriknya, Pulau Obi, Halmahera Selatan.-Daeng Mansur-AFP-
Pengumuman Eramet itu sempat direspons langsung oleh pasar. Saham Eramet di bursa Paris sempat mengalami fluktuasi. Investor menghitung potensi kehilangan pendapatan dari salah satu aset paling menguntungkan milik perusahaan tersebut di Asia.
BACA JUGA:PBNU Bantah Keras Tudingan Terima Dana dari PT Gag Nikel Raja Ampat
BACA JUGA:PT Gag Nikel Tidak Dicabut Izinnya, Bahlil: Kami Pantau Dengan Ketat
Pengakuan pemangkasan produksi dari Eramet mendapat respons sebaliknya dari perusahan-perusahan yang bergerak di pertambangan nikel dalam negeri. Pada penutupan pasar saham Kamis 12 Februari 2026, sejumlah emiten nikel terdongkrak naik.
Emiten INCO milik Vale Indonesia tercatat naik 7,8 persen dengan nilai Rp 6.850. Capaian itu disusul oleh ANTM yang naik 5,40 persen, dan MBMA sebagai perusahaan yang bergerak di baterai listrik juga melambung hingga 6,15 persen. Kenaikan kompak emiten nikel hari ini dinilai sebagai sentimen Eramet Effect. Yang telah mengakui pemangkasan produksi nikelnya di Indonesia.
Asosiasi Pertambangan Indonesia (API–IMA) menyayangkan kebijakan pemerintah terbaru untuk produksi pertambangan itu. Direktur Eksekutif IMA, Sari Esayanti, menjelaskan bahwa penurunan kuota secara signifikan ini akan berpengaruh pada perencanaan jangka panjang perusahaan termasuk keputusan investasi dan pengelolaan operasional.
IMA menilai, pembatasan produksi itu akan berdampak pada komitmen kontrak penjualan yang telah disusun dengan mempertimbangkan dinamika pasar global.

JAJARAN TRUK pengangkut nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, September 2025.-Daeng Mansur-AFP-
Pemangkasan kuota nikel berpotensi berdampak terhadap kepastian pasokan bahan baku bagi industri hilir di dalam negeri. Juga rencana jangka panjang investasi perusahaan yang telah disusun berdasarkan persetujuan RKAB sebelumnya.
“Kami memahami pentingnya peran pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam,” kata Sari. Namun, pembatasan produksi perlu dilaksanakan melalui proses yang inklusif dengan melibatkan masukan dari para pelaku industri, terutama perusahaan yang terdampak secara langsung.
Langkah Indonesia membatasi produksi nikel itu dianggap strategis oleh sebagian kalangan. Indonesia sebagai negara dengan 65 persen produksi nikel dunia tahun lalu, membuat pembatasan menjadi rencana yang dianggap menguntungkan.
BACA JUGA:Pemerintah Cabut Izin Empat Perusahaan Tambang di Papua, PT Gag Nikel Tidak Terdampak
Surplus produksi nikel dari Indonesia selama ini dianggap menjadi salah satu sebab anjloknya harga logam itu. Bahkan, produksi nikel Indonesia itu dianggap menjadi penyebab keruntuhan harga produksi nikel di Australia dan Kaledonia. Dua negara yang menjadi lima besar produsen nikel dunia saat ini. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: