Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

ILUSTRASI Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Sejarah menunjukkan bahwa perlawanan frontal terhadap kekuatan raksasa sering kali berakhir tragis. Namun, bersiasat dengan cerdas adalah jalan lain yang lebih realistis. Dalam konteks ekonomi komunal lokal vs elite global, Indonesia pernah memiliki pengalaman berharga saat krisis moneter 1998. 

BACA JUGA:Satu Tahun Kepemimpinan Prabowo-Gibran serta Pertumbuhan Ekonomi dan Bisnis yang Inklusif

BACA JUGA:Kebijakan Ekonomi Positif Membawa IHSG All Time High

Ketika badai spekulasi global –yang salah satunya dipicu oleh manuver George Soros– meluluhlantakkan ekonomi nasional, nilai rupiah terpuruk, perusahaan besar kolaps, dan konglomerasi runtuh.

Ironisnya, pada saat yang sama, lapisan masyarakat akar rumput justru menemukan momentumnya. UMKM, home industry, dan komunitas usaha kecil –terutama yang berbasis ekspor– mampu bertahan, bahkan tumbuh. 

Kunci utamanya adalah the power of communal: kekuatan komunitas yang saling menopang, saling membeli, dan saling menguatkan dalam jejaring solidaritas.

BACA JUGA:BRICS vs G-7: Membaca Ulang Dinamika Hegemoni Ekonomi Global

BACA JUGA:Ekonomi Serabutan, dari Kepepet Menjadi Kreatif

Model itu sejatinya sejalan dengan prinsip ekonomi Islam. Rasulullah SAW bersabda:

”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka, membangun ekonomi komunal bukanlah bentuk perlawanan frontal terhadap elite global, melainkan strategi berkelit cerdas: memperkuat daya tahan internal tanpa harus berhadap-hadapan secara langsung. 

Komunitas membangun pasar sendiri, memperkuat kepercayaan terhadap produk sendiri, dan menciptakan sirkulasi ekonomi dari, oleh, dan untuk anggota komunitas.

Dalam konteks kekinian, strategi itu makin relevan. Gerakan saling membeli produk komunitas, koperasi berbasis inovasi, hingga pemanfaatan teknologi finansial (fintech) komunitas –seperti yang pernah digagas melalui aplikasi MUSLEM NETWORK– adalah contoh konkret bagaimana ekonomi komunal dapat beradaptasi dengan zaman.

Sebagai studi komparatif, kita dapat belajar dari komunitas muslim di Malaysia seperti Darul Arqam (sebelum dibubarkan pada 1994) dan penerusnya, Rufaqa’ Corporation, hingga GISBH. 

Mereka membangun ekosistem ekonomi jamaah: produksi halal, restoran, perhotelan, pendidikan, dan kesehatan –perputaran uang terjadi di dalam komunitas itu sendiri. Praktik itu mencerminkan penerapan fikih muamalah yang berusaha melepaskan diri dari sistem ekonomi ribawi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: