Ekspor RI Bebas Bea ke AS, Peluang Besar atau Jebakan Kompetisi?
Kementerian Perikanan dan Kelautan memberangkatkan enam kontainer udang dari Surabaya ke Amerika Serikat pada Rabu, 3 Desember 2025.-Boy Slamet-Harian Disway-
Hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru. Tepat setelah kedua negara meneken Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026. Kesepakatan itu pun bisa menjadi titik balik bagi daya saing ekspor Indonesia di pasar Amerika.
—-
Indonesia mencatatkan komitmen perdagangan dan investasi senilai USD38,4 miliar atau sekitar Rp600 triliun di Forum Bisnis AS-Indonesia.
Namun, yang paling penting adalah keputusan AS memberikan tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif produk unggulan Indonesia. Artinya, ribuan produk Indonesia bisa segera masuk ke pasar Amerika tanpa bea masuk.
Selama ini, banyak produk dalam negeri yang dikenai tarif 5-20 persen. Begitu tarif dihapus, harga produk Indonesia otomatis jadi lebih murah.
BACA JUGA:Prabowo: Pengiriman 8.000 Pasukan RI ke Gaza Ditargetkan 1–2 Bulan Lagi
BACA JUGA:Pertemuan Perdana Board of Peace, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia Dukung Perdamaian di Palestina
Tentu juga bisa lebih kompetitif dibanding sebelumnya. Otomatis permintaan barang pun langsung meningkat, terutama untuk produk-produk yang sensitif terhadap harga.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan cakupan sektor yang mendapat manfaat luas.
Seperti pertanian maupun industri, minyak sawit, kopi, kakao, karet, hingga komponen elektronik dan semikonduktor yang kini tarifnya nol persen.
Artinya, bukan hanya sektor besar, tapi juga komoditas yang menyerap banyak tenaga kerja.
BACA JUGA:Trump Puji Prabowo di Forum Board of Peace Washington DC: ‘Saya Tidak Ingin Berhadapan Dengannya’
BACA JUGA:Menko Airlangga Ungkap Prabowo Akan Teken Kesepakatan Dagang dengan AS Bulan Ini
Bahkan, skema tariff rate quota (TRQ) dengan tarif nol persen diterapkan untuk tekstil dan apparel. Hal itu memberi peluang ekspor lebih besar, meski tetap ada batas kuota. Dampaknya bisa luas karena sektor-sektor ini adalah sektor padat karya.
"Tentunya memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," papar Airlangga.
Namun kesepakatan tersebut bersifat timbal balik. Indonesia memberi akses lebih mudah bagi komoditas utama AS seperti gandum dan kedelai.
Cukup masuk akal dari sisi ekonomi domestik, terutama untuk menjaga harga pangan tetap stabil. Jika bahan baku bebas bea masuk, maka harga mie, tahu, dan tempe bisa lebih terkendali.
BACA JUGA:Hasil Kunjungan ke AS, 1.819 Produk Ekspor Indonesia Kini Nol Tarif
BACA JUGA:Trump Marah PM Kanada 'Sowan' ke Xi Jinping, Ancam Jatuhkan Sanksi Tarif 100 Persen
Pemerintah juga menyebut perjanjian tersebut murni kerja sama ekonomi. Tanpa embel-embel isu nonekonomi seperti reaktor nuklir atau Laut Cina Selatan.
Perjanjian itu bahkan disebut sebagai "Zaman Keemasan Baru" dan akan berlaku 90 hari setelah proses hukum dan konsultasi DPR RI selesai.
Kalangan akademisi menilai itu sebagai peluang besar. Guru Besar Ilmu Ekonomi Perdagangan dan Moneter Internasional Universitas Airlangga (Unair) Unggul Heriqbaldi menyebut penghapusan tarif sangat signifikan bagi sektor padat karya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: