Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (3): Bangkit Mandiri dari Trauma Korban Bencana
ILUSTRASI Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (3): Bangkit Mandiri dari Trauma Korban Bencana.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SABTU, 21 Februari 2026, tim dari Universitas Airlangga melakukan kegiatan pendampingan kepada keluarga-keluarga miskin yang mengalami trauma karena menjadi korban bencana banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera.
Pertemuan dengan 25 orang keluarga korban bencana kami laksanakan di kantor Kementerian Agama, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Meski bencana dahsyat yang terjadi sudah lewat lebih dari tiga bulan, tetapi karena musim hujan masih terus terjadi hingga sekarang, perasaan waswas itu masih menghantui masyarakat.
Di Kabupaten Pidie, menjelang sore hujan nyaris turun setiap hari. Warga setempat, terutama yang rumahnya masih tertimbun lumpur dan tinggal di tenda-tenda pengungsian, setiap hari merasa tidak nyaman karena tidak ada kepastian kapan dapat kembali ke rumah.
Alih-alih dapat membersihkan rumah, setiap sore, ketika hujan turun, sebagian air masih masuk ke rumah dan lingkungan rumah menjadi kotor –tak layak huni. Hidup dalam ketidakpastian memang membuat korban bencana rentan mengalami trauma.
BACA JUGA:Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (1): Memberdayakan Pelaku Usaha Mikro
Untuk memberikan semangat dan membangun semangat agar keluarga-keluarga miskin yang menjadi korban bencana tidak mengalami trauma yang berkelanjutan, tim Universitas Airlangga menugaskan Edith Frederika Puruhito, dosen Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga, untuk menyampaikan materi tentang Trauma Awareness dan Motivasi Bangkit Pascabencana.
Tidak hanya menyampaikan materi secara lisan, dalam presentasinya, Edith juga mengajak langsung keluarga miskin korban bencana untuk praktik langsung akupresur mandiri. Misalnya, ketika korban sakit kepala, nyeri otot, sulit tidur, mual, sesak napas, dan bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh pasca mengalami bencana.
TRAUMA KORBAN BENCANA
Trauma yang timbul akibat menjadi korban bencana tidak selalu berwujud tangisan dan perilaku histeris yang mencemaskan. Trauma sering kali berupa tatapan kosong, kecemasan berlebih saat hujan turun, atau ketakutan anak-anak untuk kembali sekolah. Bagi keluarga miskin, trauma itu berlapis.
Mereka tidak hanya kehilangan anggota keluarga atau rasa aman, tetapi juga kehilangan satu-satunya aset yang dimiliki: rumah sederhana, alat pertanian, ternak yang menjadi sumber penghidupan, atau rombong yang menjadi peralatan mereka berdagang kecil-kecilan.
Pengalaman telah banyak mengajarkan ketika terjadi krisis air bersih dan tempat tinggal yang rusak atau bahkan hilang membuat sebagian korban bencana harus menetap di pengungsian dengan fasilitas terbatas.
Ketidakpastian masa depan bukan tidak mungkin menciptakan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang merayap perlahan. Bencana memaksa mereka menjadi miskin permanen jika tidak segera mendapatkan pertolongan yang tepat.
Itulah keluhan yang sering dilontarkan sebagian warga yang menjadi korban bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: