Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma
ILUSTRASI Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Keberhasilan politik makin dipengaruhi oleh perhatian publik, viralitas, dan dominasi narasi, bukan semata kapasitas kebijakan atau kompetensi.
Kajian komunikasi politik menunjukkan bahwa kurasi konten berbasis algoritma cenderung memprioritaskan keterlibatan pengguna dibandingkan proses deliberasi. Cass Sunstein dan Eli Pariser menunjukkan bagaimana arsitektur digital dapat mempersempit paparan informasi dan memperkuat polarisasi.
Dalam konteks demokrasi elektoral yang sangat kompetitif seperti Indonesia, dinamika tersebut berpotensi menurunkan kualitas pembentukan opini publik.
BACA JUGA:Demokrasi Digital dan Partisipasi Pemilih
BACA JUGA:Demokrasi Membutuhkan Etika
Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi distribusi pengaruh politik, tetapi juga membentuk perilaku politik itu sendiri. Aktor politik dan warga ”dipaksa” menyesuaikan diri dengan logika algoritma, memproduksi pesan yang mudah menyebar dan menarik perhatian.
Akibatnya, performa demi keterlihatan cenderung menggeser kerja pemerintahan yang bersifat substantif, tetapi kurang terlihat.
Dampaknya bukan sekadar intensitas perdebatan yang meningkat, melainkan distorsi insentif dalam sistem politik. Daya tarik emosional jangka pendek memperoleh keuntungan lebih besar jika dibandingkan dengan penyelesaian masalah struktural jangka panjang.
PLATFORM DIGITAL DAN PERGESERAN PUSAT KEKUASAAN
Perkembangan lain yang mengemuka adalah menguatnya dominasi platform digital dalam ruang publik. Sejumlah perusahaan teknologi global memiliki kendali signifikan atas distribusi informasi, keterlihatan politik, dan pembentukan opini publik.
Melalui algoritma dan kebijakan internal, mereka menentukan batas diskursus tanpa mekanisme akuntabilitas yang setara dengan institusi demokratis.
Kekuasaan itu bekerja melalui mekanisme sehari-hari seperti like, share, comment, dan rekomendasi konten seperti FYP.
Penelitian psikologi perilaku sejak eksperimen B. F. Skinner hingga analisis Shoshana Zuboff menunjukkan bahwa umpan balik berulang dapat membentuk perilaku secara efektif. Dalam praktiknya, pengguna menyesuaikan diri dengan logika platform, dan tanpa kesadaran penuh.
Karena berlangsung dalam skala besar dan terus-menerus, perubahan perilaku publik terjadi lebih cepat dibandingkan kemampuan institusi demokrasi untuk merespons. Kebiasaan digital terbentuk dalam waktu sangat singkat, sementara penyesuaian norma dan reformasi kelembagaan berlangsung jauh lebih lambat.
Kondisi itu melemahkan institusi yang menjadi prasyarat demokrasi modern. Robert Dahl menekankan pentingnya partai politik, organisasi masyarakat sipil, dan media dalam menerjemahkan preferensi publik menjadi kebijakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: