Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma
ILUSTRASI Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ketika peran-peran itu melemah, opini publik memasuki arena politik dalam bentuk yang lebih mentah, reaktif, dan emosional.
Di Indonesia, gejala tersebut tampak dalam menurunnya kepercayaan terhadap partai politik dan meningkatnya ketergantungan pada arus opini digital sebagai sumber legitimasi politik.
Platform digital kerap melompati mekanisme representasi formal sehingga sistem politik lebih rentan terhadap perubahan suasana publik yang cepat.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan percepatan perubahan teknologi, pendekatan pemerintahan yang lebih tersentralisasi dipandang menawarkan efektivitas dan kecepatan pengambilan keputusan.
Namun, pengalaman historis menunjukkan bahwa sistem otoriter memiliki keterbatasan mendasar dalam mekanisme koreksi. Daron Acemoglu dan James A. Robinson menunjukkan bahwa pembatasan suara dan kritik justru menghambat kemampuan sistem untuk mengenali kesalahannya secara dini serta melakukan penyesuaian yang diperlukan.
TATA ULANG KELEMBAGAAN
Tantangan utama demokrasi modern saat ini bukanlah meninggalkan legitimasi rakyat, melainkan menata ulang relasi antara legitimasi dan kapasitas pemerintahan. Legitimasi menentukan sumber dan batas kekuasaan, sementara kompetensi berkaitan dengan pengelolaan kebijakan yang kompleks.
Bagi Indonesia, agenda itu berkaitan dengan penguatan kapasitas birokrasi, transparansi tata kelola platform digital, serta kejelasan tanggung jawab antara negara dan perusahaan teknologi dalam pengelolaan ruang publik digital.
Karena itu, tantangan demokrasi Indonesia bukan memilih antara kebebasan atau stabilitas. Tantangannya adalah menata ulang hubungan antara legitimasi dan kapasitas.
Penguatan birokrasi profesional, transparansi tata kelola platform digital, serta kejelasan tanggung jawab antara negara dan perusahaan teknologi menjadi agenda penting. Algoritma bukan lagi sekadar soal teknis, melainkan infrastruktur politik baru.
Masa depan demokrasi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara kompetisi dan kohesi. Demokrasi membutuhkan perbedaan, juga memerlukan kepercayaan dasar bahwa aturan main dihormati bersama.
Pelajaran dari Bulgaria dan berbagai negara lain menunjukkan bahwa demokrasi bisa melemah secara perlahan ketika fragmentasi dan delegitimasi dibiarkan mengeras. Namun, Indonesia juga memiliki modal penting: pengalaman transisi sejak 1998 yang relatif berhasil dan masyarakat sipil yang cukup dinamis.
Di era algoritma dan kecerdasan buatan, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh konstitusi, tetapi juga oleh bagaimana ruang digital diatur dan dimanfaatkan.
Jika penyesuaian kelembagaan mampu mengikuti kecepatan teknologi, demokrasi Indonesia bukan hanya dapat bertahan, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih matang dan terlegitimasi secara politik, sekaligus efektif dalam bekerja
Penataan ulang kelembagaan juga menuntut transparansi algoritma, akuntabilitas atas penyebaran disinformasi oleh elite politik serta penguatan kembali peran institusi dalam proses demokrasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: