Bangku Sekolah dan Pena Kemiskinan
ILUSTRASI Bangku Sekolah dan Pena Kemiskinan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ADA tragedi yang tidak lahir dari perang dan tidak pula dari bencana alam, tetapi dari sistem sosial yang pelan-pelan membunuh harapan manusia. tragedi itu datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika seorang anak SD kelas IV berinisial YBR pada Kamis, 29 Januari 2026, memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon cengkih milik neneknya.
Alasannya terdengar terlalu sederhana untuk disebut sebagai alasan kematian: ia tidak sanggup membeli alat sekolah (sebuah buku dan pena). Di balik berita yang singkat itu, ada luka kemanusiaan yang panjang. Sebab, sesungguhnya YBR tidak mati karena tali, tetapi karena kemiskinan yang menjerat dari generasi ke generasi.
Bangku sekolah yang seharusnya menjadi tempat memupuk masa depan berubah menjadi kursi pengadilan bagi anak-anak miskin. Pena yang seharusnya menulis cita-cita justru menjadi simbol ketidakmampuan.
BACA JUGA:Ketika Negara Terlambat Hadir di Bangku Sekolah Siswa
BACA JUGA:Sistem yang Transparan dan Rotasi Pendidik Disiapkan Anies untuk Antisipasi Transaksi Bangku Sekolah
Dalam tragedi ini, kita melihat betapa pendidikan di Indonesia masih menyimpan ironi paling getir: sekolah sering menjadi ruang harapan bagi yang mampu tetapi ruang ”penghinaan” bagi kaum kurang mampu.
Kemiskinan ekstrem bukan sekadar soal ketiadaan uang. Ia adalah kondisi di mana seseorang kehilangan martabat sosial, kehilangan rasa percaya diri, dan kehilangan keberanian untuk bermimpi.
Ketika seorang anak tidak sanggup membeli buku atau alat tulis, ia tidak hanya kehilangan fasilitas belajar, tetapi juga kehilangan pengakuan bahwa ia layak menjadi manusia utuh. Dalam situasi seperti itu, sekolah yang seharusnya membebaskan justru menjadi mesin yang mempermalukan.
Paulo Freire, pemikir pendidikan dari Brasil, pernah mengingatkan bahwa pendidikan bisa menjadi alat pembebasan atau alat penindasan. Dalam istilah Freire, pendidikan yang tidak kritis hanya menjadikan murid seperti ”celengan kosong” yang dijejali pengetahuan tanpa memanusiakan.
KETIMPANGAN SOSIAL DAN GEOGRAFIS
Lebih menyedihkan lagi, pendidikan di Indonesia masih timpang secara geografis dan kelas sosial. Anak di kota besar hidup dalam beragam fasilitas (laptop, les privat, ruang kelas nyaman, dan guru yang necis), sebaliknya anak di desa-desa terpencil sering harus berjalan jauh, menyeberang sungai, atau belajar di ruang yang nyaris kosong.
Ketimpangan itu menciptakan dua dunia pendidikan yang berbeda. Yang satu dunia pendidikan untuk mencetak pemimpin, sedangkan di belahan lain adalah dunia pendidikan untuk sekadar bertahan hidup.
Dalam filsafat keadilan John Rawls, negara yang adil adalah negara yang berpihak kepada mereka yang paling lemah. Rawls menyebut prinsip itu sebagai difference principle, sebuah kebijakan harus memberikan manfaat terbesar bagi kelompok paling rentan.
Jika prinsip itu dipakai sebagai cermin, wajah pendidikan kita memantulkan ketidakadilan. Negara terlalu sering sibuk merayakan statistik pendidikan, tetapi lupa bahwa statistik tidak pernah menangis. Anak-anak seperti YBR-lah yang menangis dan menjerit dalam diam hingga akhirnya menyerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: