Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026

Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026

ILUSTRASI Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

AWAL TAHUN, bangsa ini kembali memasuki ruang refleksi bersama. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita mengawali kalender dengan campuran rasa syukur, harapan, dan tentu saja catatan-catatan yang belum selesai. 

Bencana alam yang datang silih berganti, program-program pemerintah yang berusaha menjawab kebutuhan publik, dan dinamika sosial yang makin kompleks. Semuanya menjadi cermin bagi kita untuk belajar sebagai sebuah bangsa.

Refleksi awal tahun sejatinya bukan ajang saling menyalahkan. Ia adalah kesempatan untuk menata ulang cara pandang, memperbaiki niat, dan menguatkan langkah ke depan. 

BACA JUGA:Gajah di Tengah Bencana Alam

BACA JUGA:Bencana Berlapis: Kelompok Rentan Menanggung Beban Pemulihan yang Tidak Setara

Terutama bagi para pemimpin negeri, awal tahun adalah momen penting untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya dengan jujur: apa yang sudah kita lakukan dengan baik, dan apa yang masih perlu kita benahi bersama? 

Kepercayaan publik adalah fondasi paling rapuh sekaligus paling menentukan dalam kepemimpinan. Sekali runtuh, ia sulit dibangun kembali. Dan, hari-hari ini kita sedang menyaksikan erosi kepercayaan itu secara perlahan tetapi konsisten.

Jika bencana alam adalah takdir geografis, bencana yang menyertainya itu ketidaksiapan, kebingungan koordinasi, lambannya respons, dan sikap defensif pejabat adalah hasil dari manusia dan sistem yang gagal belajar. 

BACA JUGA:Mengendus Jejak Gelap Rent-Seeking di Balik Bencana Ekologis

BACA JUGA:Pengerahan Sumber Daya Pusat Tanpa Status Bencana Nasional

Itulah yang bisa disebut sebagai gelombang bencana inkompetensi kepemimpinan: tidak selalu kasatmata, tetapi dampaknya nyata dan luas.

KEPERCAYAAN PUBLIK 

Dalam ilmu psikologi SDM dan organisasi, kepercayaan publik dipandang sebagai psychological capital yang sangat berharga. Ia tidak dibangun dalam satu kebijakan, tetapi tumbuh dari konsistensi sikap, ketulusan komunikasi, dan kemampuan pemimpin menunjukkan kehadiran nyata saat masyarakat membutuhkan.

Tahun lalu kepercayaan publik diuji oleh berbagai peristiwa. Penanganan bencana alam di beberapa wilayah, misalnya, memperlihatkan betapa kompleksnya koordinasi lintas lembaga. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: