Resolusi 2026, Mengkaji Kegagalan Kebijakan di Balik Bencana
ILUSTRASI Resolusi 2026, Mengkaji Kegagalan Kebijakan di Balik Bencana.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SETIAP KALI bencana terjadi, penjelasan yang muncul hampir selalu sama, yakni hujan terlalu deras, kemarau terlalu panjang, atau cuaca makin ekstrem. Alam kembali disalahkan.
Penjelasan itu terdengar wajar, tetapi tidak cukup. Sebab, ketika banjir, longsor, dan kebakaran datang berulang, dengan dampak yang makin besar, masalahnya bukan lagi sekadar cuaca. Ada persoalan kebijakan yang perlu dikaji.
Dalam teori kebijakan publik, Thomas R. Dye menjelaskan kebijakan secara sederhana: public policy is whatever governments choose to do or not to do. Kebijakan publik adalah apa yang pemerintah pilih untuk dilakukan atau tidak dilakukan.
BACA JUGA:5 Resolusi Kulit Sehat 2026 yang Realistis dan Ilmiah
BACA JUGA:Tren Resolusi Pasangan 2026: Hadir Lebih Utuh, Bertumbuh Bersama
Artinya, bencana bukan hanya soal apa yang terjadi, tetapi juga soal keputusan apa yang diambil dan yang dibiarkan oleh negara.
Data bencana sepanjang 2025 memperkuat hal itu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 2.900 kejadian bencana sepanjang tahun 2025 dan hampir 99 persen di antaranya adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor.
Dominasi bencana hidrometeorologi menunjukkan bahwa bencana di Indonesia sangat berkaitan dengan cara kita mengelola air, hutan, dan ruang hidup. Itu bukan semata persoalan alam, melainkan persoalan pilihan pembangunan.
BACA JUGA:Hasil Retret Hambalang: APBN 2026 Tak Direvisi, Anggaran MBG Tetap Sesuai Ketetapan
BACA JUGA:Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026 Capai Rp335 Triliun, Prasetyo: Tidak Ada Masalah
Bahkan, pada awal tahun, Kompas melaporkan bahwa dalam 13 hari pertama 2025 sudah terjadi 74 bencana, mayoritas banjir. Pada November 2025, menurut laporan BNPB, terjadi lebih dari 270 bencana hanya dalam satu bulan.
Angka-angka itu menunjukkan satu pola jelas bahwa bencana bukan kejadian luar biasa, melainkan peristiwa yang berulang.
Laporan Reuters pada akhir 2025 juga mencatat banjir dan longsor besar di Sumatera yang menewaskan lebih dari 1.100 orang, memaksa ratusan ribu warga mengungsi, dan merusak jalan, jembatan, serta fasilitas umum. Pada skala korban sebesar itu, sulit mengatakan bahwa bencana hanyalah takdir alam.
BACA JUGA:5 Tren Skincare 2026: Dari Perawatan Regeneratif hingga Analisis Kulit Berbasis AI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: