Polisi Banten Bongkar Kasus Perdagangan Manusia Berkedok Rekrutmen Online
Ilustrasi- Kepolisian Polda Banten tangkap pelaku perdagangan manusia lewat aplikasi MiChat --disway id
BANTEN, HARIAN DISWAY- Kepolisian dari Polda Banten berhasil mengungkap kasus dugaan perdagangan manusia yang melibatkan rekrutmen pekerja seks komersial (PSK) lewat aplikasi online.
Pengungkapan ini dilakukan setelah aparat menggerebek sebuah rumah kos di wilayah Kramawatu, Kabupaten Serang, yang diduga menjadi lokasi penampungan korban.
Dalam operasi tersebut, polisi menangkap dua orang pria berinisial AB dan FT yang diduga sebagai pelaku utama. Keduanya diduga menjalankan praktik perdagangan manusia dengan merekrut melalui "MiChat".
Kepala Sub-Divisi 4 Pemuda, Anak, dan Perempuan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Banten, Deputi Komisaris Senior Irene Missy, menjelaskan bahwa para korban dijanjikan gaji bulanan sebesar Rp9 hingga Rp10 juta.
BACA JUGA:KPK Tahan Budiman Bayu Prasojo Terkait Kasus Suap Impor Barang KW di Kementerian Keuangan
BACA JUGA:Hendak Kabur ke Malaysia, Erwin Alias Koko Erwin Dibekuk Bareskrim Polri
Namun, setelah direkrut, para korban justru diarahkan untuk melayani pelanggan sebagai PSK. Polisi menemukan tiga perempuan di lokasi penggerebak yang diduga korban eksploitasi.
Ketiga perempuan tersebut kini telah diamankan dan tengah mendapatkan pendampingan serta pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Selain mengamankan pelaku dan korban, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya telepon seluler milik pelaku, uang tuang Rp9,85 juta, enam kotak alat kontrasepsi, pelumas, serta tangkapan layar percakapan yang berkaitan dengan aktivitas ilegal tersebut.
Barang bukti tersebut dinilai memperkuat dugaan praktik perdagangan manusia yang dilakukan secara terorganisir.
BACA JUGA:Perampok Sekolah di Ponorogo Ditangkap, Polisi Ungkap Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
BACA JUGA:Gegara Memutus Hubungan Asmara, Pemuda Ini Dipelintir Jadi Terdakwa Pencurian
Irene Misssy menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas.
"Para pelaku dan korban saat ini sedang diperiksa secara intensif oleh tim penyidik. Kami akan mendalami lebih lanjut untuk mengungkap jaringan lain dan memastikan perlindungan terhadap korban," ujar Irene.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: