Risiko Eating Disorder, Gangguan Pola Makan pada Kelompok Rentan saat Ramadan

Risiko Eating Disorder, Gangguan Pola Makan pada Kelompok Rentan saat Ramadan

Mengatur kembali pola makan seimbang membantu tubuh beradaptasi setelah periode konsumsi makanan berlebih saat puasa.-LT Lifestyle-Pinterest

Perubahan mendadak itu tidak selalu negatif bagi semua remaja. Namun, pada sebagian individu yang memiliki kerentanan terhadap gangguan makan, situasi seperti puasa dapat memicu atau memperburuk pola makan yang tidak sehat.

Kondisi itu dikenal sebagai disordered eating. Yakni perilaku makan yang tidak teratur. Itu berpotensi berkembang menjadi gangguan makan klinis.

Risiko dan Pemicu Tersembunyi

Remaja dengan citra tubuh yang tidak realistis atau dengan tekanan sosial tertentu bisa lebih rentan. Pada kelompok itu, perubahan jadwal makan seperti saat puasa dapat memperkuat perilaku restriktif atau kompulsif terhadap makanan.

BACA JUGA:5 Cara Menjaga Pola Makan setelah Lebaran, Cegah Sakit Perut dan Kolesterol

BACA JUGA:6 Tip Mengatur Pola Makan saat Lebaran

Dalam beberapa laporan medis kasus, fenomena itu telah terlihat pada remaja yang mengalami perubahan drastis dalam kebiasaan makan. Baik selama atau setelah Ramadan.

Menunjukkan potensi puasa sebagai trigger (pemicu). Terutama bagi mereka yang sudah memiliki kerentanan terhadap gangguan makan.

Perlu diingat bahwa gangguan makan tidak selalu tampak jelas dari luar. Gejala awal bisa berupa obsesi terhadap makanan tertentu. Juga rasa bersalah yang berlebihan setelah makan.

Juga upaya kompensasi seperti olahraga berlebihan atau pengendalian porsi secara ekstrem, yang semuanya bisa tersembunyi di balik praktik puasa yang tampak religius.

BACA JUGA:5 Aplikasi Kalkulator Nutrisi Sahur 2026: Pantau Hidrasi & Pelepasan Energi agar Puasa Optimal

BACA JUGA:7 Ide Menu Sahur Rendah Glikemik, Tidak Cepat Lapar saat Puasa Ramadan

Pentingnya Kesadaran dan Dukungan


Pola makan Intuitive Eating dapat menurunkan risiko depresi dan perilaku makan berlebih--freepik.com

Pakar kesehatan remaja menekankan pentingnya dukungan dari orang tua, guru, dan komunitas. Mereka dapat membantu remaja menjalani puasa dengan pola makan yang sehat dan seimbang.

Edukasi tentang nutrisi yang benar, baik saat sahur dan buka puasa, sangat krusial untuk memastikan kebutuhan energi dan gizi terpenuhi. Sehingga kesehatan fisik dan mental tidak terganggu.

Pendampingan profesional dari ahli gizi atau psikolog dapat membantu pula. Terutama untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda awal hubungan tidak sehat dengan makanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: