Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi
Mendiang Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia yang berpulang pada 3 Maret 2026.-Hengki Herwanto-Museum Musik Indonesia
BACA JUGA:DXS SEVENTEEN Rilis Highlight Medley Album Serenade, Penuh Nuansa Drama Musikal
Perkembangan terbaru bahkan menyebut koleksi telah melampaui 50 ribu item. Secara sosioantropologis, pola itu menunjukkan bahwa museum berfungsi sebagai arsip kolektif komunitas. Bukan sekadar institusi top-down. Partisipasi publik menjadi motor utama produksi memori.
Bukan Sekadar Menyimpan Benda
Kesadaran akan dimensi sosial arsip sangat terasa dalam penuturan Mas Hengki pada saya di 2014 lalu. Bahwa sejak awal ia tidak ingin museum itu terasa jauh ataupun berjarak dari publik.
Banyak koleksi datang bukan karena membeli. Tapi karena orang merasa punya ‘rumah’ untuk menyimpan sejarah musik mereka.
Sehingga pernyataan itu menegaskan fungsi sosial MMI sebagai ruang kepercayaan komunitas (trust-based archive).
BACA JUGA:Saluran Musik MTV Ditutup, Superfan Bangun Arsip 33 Ribu Video di Situs MTV Rewind
BACA JUGA:Livin’ Fest 2025 Surabaya 11-14 Desember: Hadirkan 400 UMKM, Konser Musik, dan Promo Besar Mandiri
Tak berhenti di situ, data lapangan menunjukkan bahwa MMI menyimpan rekaman dari era 1950-an hingga 2000-an. Mencakup semua genre. Dari tradisional hingga lagu anak-anak.
Selain produk rekaman, MMI juga mengoleksi alat musik tradisional. Seperti sasando dan gambang. Berdampingan dengan gitar dan drum.
Keberagaman itu penting. Karena mencerminkan pluralitas budaya musikal Indonesia.
Pun, menjembatani dikotomi tradisional vs populer dan membuka ruang narasi lintas generasi.
BACA JUGA:Forum ASEAN–Jepang, Menkum Supratman Usulkan Pertemuan Khusus Bahas Royalti Musik dan AI
Hal itu menegaskan bahwa arsip musik di MMI tumbuh dari relasi sosial, bukan sekadar logika koleksi. Namun, pekerjaan rumahnya tidak kecil.
Masalah terbesar bukan hanya menyimpan benda. Tapi menjaga ceritanya. “Kaset itu penting, tapi siapa yang mendengarkan dulu, di kota mana, itu sering hilang kalau tidak segera didokumentasikan”, ujarnya kala itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: