Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi

Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi

Mendiang Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia yang berpulang pada 3 Maret 2026.-Hengki Herwanto-Museum Musik Indonesia

Pendekatan itu memang penting untuk konservasi sejarah. Tetapi berisiko membekukan musik menjadi artefak statis.

Perspektif sosioantropologis mendorong museum untuk juga merekam konteks: siapa yang memainkan musik, dalam situasi apa, dan untuk komunitas mana.

BACA JUGA:Wawan Klantink x Sekedar Musik Rilis Single Rampung

BACA JUGA:Sengketa Hak Cipta Aquarius Pustaka Musik dan Blibli Berakhir Damai

Arsip tidak pernah netral. Seperti diingatkan Michel Foucault, arsip selalu terkait dengan relasi kuasa—ia menentukan apa yang dianggap penting untuk diingat dan apa yang terlupakan.

Dalam konteks musik Indonesia, kecenderungan yang muncul adalah dominasi musisi kanonik dan produksi industri rekaman.

Sementara praktik musikal komunitas lokal sering kurang terdokumentasi. Karena itu, museum musik kontemporer ditantang bergerak menuju model yang lebih partisipatoris. Yakni dengan melibatkan komunitas sebagai mitra kuratorial.

Dari Komunitas untuk Memori Kolektif

Pengalaman Museum Musik Indonesia (MMI) di Malang memberikan gambaran konkret tentang dinamika pengarsipan musik berbasis komunitas di Indonesia.

BACA JUGA:Kim Kardashian Akui Kagumi Musik Taylor Swift Meski Pernah Dikaitkan Konflik Lama

BACA JUGA:Era Baru Rose BLACKPINK: Sukses di Fashion dan Musik, Jadi Nomine Grammy Awards 2026

Museum itu berakar dari Galeri Malang Bernyanyi yang digagas komunitas pecinta musik pada 2009.

Lalu resmi menjadi museum pada 2016. Semangat voluntarisme menjadi fondasi penting sejak awal.

Salah satu temuan lapangan paling menarik adalah pola akumulasi koleksi. Sebagian besar koleksi MMI berasal dari sumbangan masyarakat—baik kolektor, musisi, maupun pecinta musik.

Dari sekitar 200 koleksi awal pada masa galeri, jumlahnya melonjak drastis. Pada 2018 museum telah menyimpan lebih dari 26.000 item, meliputi piringan hitam, kaset, CD, majalah, hingga busana artis.

BACA JUGA:Unitomo Gelar Syncroma Fest, Sinkronkan Musik dan Kopi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: