Warga Kanada Boleh Memilih Hari Kematiannya: Meninggal Tersenyum, Dikelilingi Keluarga

Warga Kanada Boleh Memilih Hari Kematiannya: Meninggal Tersenyum, Dikelilingi Keluarga

CLAIRE BROSSEAU, mantan komika Kanada yang ingin menjalani euthanasia karena menderita bipolar selama bertahun-tahun.-COLE BURSTON VIA AFP-

Setiap hari adalah momen ujian bagi perempuan 49 tahun yang tinggal bersama Olive, anjingnya, di apartemen kecil di Toronto tersebut.

BACA JUGA:Trump Marah PM Kanada 'Sowan' ke Xi Jinping, Ancam Jatuhkan Sanksi Tarif 100 Persen

BACA JUGA:Semarak German Christmas Market, Tradisi Jelang Natal di Kanada

Brosseau hanya keluar rumah untuk mengajak Olive berjalan saat jalanan sepi. Dia sangat membatasi kontak dengan keluarga. Tak mau lagi bertemu teman. Semua kebutuhannya dilakukan lewat pemesanan daring. Bahkan konsultasi dengan psikiater dilakukan lewat video dari rumahnya yang rapi dan minimalis.

Kalau undang-undang anyar itu gol, Brosseau akan mendapatkan keinginannya. Yakni, pergi dengan damai dan aman, dikelilingi orang-orang terkasih. ’’Tidak akan ada kekerasan. Saya tidak akan sendirian,” katanya.

Kanada semula akan mengizinkan bantuan kematian tanpa memandang jenis penyakit pada 2024. Namun kebijakan itu ditunda tiga tahun. Pemerintah ingin memastikan semuanya siap.

Sebenarnya, 80 persen warga Kanada mendukung euthanasia. Tapi sebagian mulai khawatir. Bahkan, kata Trudo Lemmens, profesor hukum kesehatan di Universitas Toronto, cemas jika euthanasia itu dianggap sebagai ’’terapi.’’


TAMPIL CANTIK, Rachel Fournier, dirias wajahnya oleh Virvinie Laroche, salah satu keponakannya, 20 Februari 2026.-Sebastien ST-Jean-AFP-

Lemmens juga melihat bahwa permintaan euthanasia meningkat tajam di negaranya. Ia minta pemerintah cermat. Sebab, keinginan untuk mati seringkali menjadi bagian integral dari gangguan kejiwaan.

Namun Mona Gupta, psikiater yang memimpin panel ahli penasihat pemerintah, membantah. Katanya, penderita gangguan mental dan penyakit fisik kronis itu sama saja. ’’Dan jumlah pasien gangguan mental kronis, berat, serta resisten terhadap pengobatan itu sangat kecil. Dan gangguan mental selama bertahun-tahun itu sama menderitanya dengan gangguan fisik kronis,’’ ucap Mona.

Di lain tempat, Rachel Fournier, warga Quebec yang menderita kanker otak, baru saja mendapat kabar bahwa permohonannya untuk meninggal telah disetujui. ’’Rasanya, penderitaan saya memang tidak pernah berakhir. Dan mengetahui bahwa sakit ini akan berakhir, dan saya bisa memilih momennya, sungguh sangat melegakan,’’ ucap Fournie.

Dua dokter memeriksa permohonannya untuk memastikan seluruh kriteria hukum terpenuhi.

Pemohon harus berusia dewasa, “memiliki kapasitas mengambil keputusan”, menderita penyakit serius atau tidak dapat disembuhkan, serta “mengalami penderitaan fisik atau psikologis yang konstan dan tak tertahankan yang tidak dapat diringankan dalam kondisi yang dianggap dapat diterima”.

Setelah itu dokter diizinkan memberikan obat mematikan pada tanggal dan waktu yang dipilih pasien.

Fournier mengaku bangga tinggal di negara yang memberi pasien hak menentukan pilihan. Ia menyaksikan ibunya tenggelam dalam demensia tanpa bisa meminta pergi “dengan bermartabat.” Sebab, saat itu Kanada belum punya UU Euthanasia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: