FGD Bank Indonesia tentang Prospek Ekonomi Indonesia 5 Maret 2026: Memperkuat Resiliensi, Mencari Peluang

FGD Bank Indonesia tentang Prospek Ekonomi Indonesia 5 Maret 2026: Memperkuat Resiliensi, Mencari Peluang

ILUSTRASI FGD Bank Indonesia tentang Prospek Ekonomi Indonesia 5 Maret 2026: Memperkuat Resiliensi, Mencari Peluang.-Arya/AI-Harian Disway-

KAMIS SORE, pukul 15.00 WIB, Bank Indonesia mengundang para akademisi dan peneliti dalam cara FGD (focus group discussion) untuk membahas prospek kondisi ekonomi Indonesia pada 2026. Kami berdua diundang sebagai peserta diskusi bersama sekitar 60 undangan lain para ekonom dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. 

Materi pemantik diskusi disampaikan Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Harry Aginta. Dalam paparannya, Harry menyatakan bahwa secara garis besar, ada dua faktor eksternal yang memengaruhi kondisi ekonomi nasional. 

Pertama, perang Iran versus Israel-Amerika Serikat yang tiba-tiba meletus akhir bulan Februari 2026. Itu bukan sekadar perang antara Iran dan Israel-Amerika Serikat. Sebab, imbas perang itu dengan segera melanda negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. 

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia, Akademisi, dan Peneliti (1): Mengelola Mitos, Mendorong Optimisme

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia, Akademisi, dan Peneliti (2-Habis): Menakar Manfaat Digitalisasi Sistem Pembayaran

Penutupan Selat Hormuz mengakibatkan transportasi global terhambat. Juga, mengakibatkan harga minyak dan gas langsung naik.

Kedua, kebijakan tarif yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakibatkan berbagai negara kelimpungan karena dikenai tarif tinggi. Indonesia, yang semula dikenai tarif 32 persen, dan kemudian diturunkan menjadi 19 persen, meski sepintas terkurangi, dampaknya tetap saja. 

Itu adalah penetapan kebijakan yang tidak adil karena tarif untuk produk Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia adalah nol persen.

Bagi Indonesia, turbulensi dan dinamika faktor eksternal tersebut tentu tidak bisa dihindari. Ekonomi Indonesia, yang baru saja mulai merasakan fase pemulihan stabil pascapandemi, kini kembali dihadapkan pada tantangan berat akibat perubahan kondisi geopolitik dan ekonomi global. 

Ibarat kapal yang sedang berlayar, Indonesia harus menerjang ombak ganda: ketegangan eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya eskalasi Iran  vs Israel-AS yang mengancam pasokan energi, dan kebijakan tarif impor agresif dari Trump yang mengganggu arus perdagangan internasional. 

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia 2-3 Oktober 2025 (1): Melestarikan Cultural Heritage Melalui Tenun Endek

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia 2-3 Oktober 2025 (2): Menjaga Stabilitas dan Mengejar Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Baik

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia 2-3 Oktober 2025 (3-Habis): Digitalisasi Sistem Pembayaran di Indonesia

Pertanyaan yang menarik didiskusikan bukan lagi apakah kita akan terkena dampak kondisi global, melainkan seberapa tangguh kita mampu menahan guncangan itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: