Puncak IWD Surabaya 2026, Long March Awali Mimbar Bebas di Grahadi
Massa aksi longmarch mulai dari Jalan Basuki Rahmat hingga ke Jalan Gubernur Suryo, Senin, 9 Maret 2026.-Calista Salsabila-Harian Disway
Sebanyak 23 tuntutan yang merupakan buah pemikiran dan keresahan masyarakat itu menjadi PR bersama untuk mewujudkannya.
Sore itu, setelah pembacaan tuntutan, aksi massa ditutup dengan pembacaan puisi, pertunjukan musik, dan monolog.
Itu menjadi ikatan komitmen bersama dari setiap organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta individu dalam membangun kesadaran dan kolektivitas demi perubahan yang lebih baik.
BACA JUGA:Ratusan Perempuan Masih Rentan, Kerap Jadi Korban Pelecehan

PESERTA AKSI di Grahadi, menyampaikan keresahannya lewat mimbar bebas. Syska La Veggie (kanan) bersiap membacakan tuntutan IWD Surabaya 2026.-Calista Salsabila-Harian Disway
Rangkaian peringatan IWD Surabaya 2026 menjadi gerakan berkesinambungan untuk memunculkan solidaritas gerakan dan kepedulian terhadap perempuan dan kelompok rentan. Termasuk, isu-isu ketidakadilan di Surabaya dan sekitarnya.
Publik diajak lebih sadar bahwa penutupan ruang kebebasan sipil melalui intimidasi, kekerasan dan segala bentuk represivitas atau aturan atau kebijakan yang menindas adalah ketidakadilan yang harus didobrak bersama.
Belum lagi, kriminalisasi yang belakangan marak menyasar para aktivis di berbagai daerah. Kesewenangan semacam itu membuat perempuan dan kelompok rentan semakin tidak aman.
Perubahan yang berkeadilan merupakan tujuan yang hendak diwujudkan tanpa mengurangi kerja-kerja perlindungan terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya yang telah berjalan selama ini.
BACA JUGA:Seminar Love is No Abuse, Cegah Kekerasan dalam Hubungan dan Tegakkan Kesetaraan Gender
BACA JUGA:Ulasan Buku Mawar, Bukan Nama Sebenarnya karangan Dian Purnomo: Ironi Perempuan di Negeri Patriarki
Kiranti Putri menghadiri puncak peringatan IWD Surabaya 2026 dengan perasaan campur aduk. Dara 19 tahun yang merupakan penyintas kekerasan seksual itu bersyukur karena bisa membagikan pengalamannya.
Yang lebih penting, dalam mimbar bebas tersebut, dia bisa menyuarakan keresahannya. “Ini pertama kalinya saya ikut IWD. Hati saya tergerak untuk turun ke jalan karena saya juga pernah mengalami apa yang korban-korban lainnya rasakan,” paparnya.
Bertemu dengan sesama penyintas, terlebih lagi bertemu dengan orang-orang yang mendukung dan berempati pada kemalangannya, membuat penyintas merasa tidak sendirian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: