Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia

Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia

ILUSTRASI Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia.-Ilustrasi Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

SERANGAN MILITER gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 bukan hanya eskalasi keamanan regional, melainkan juga peristiwa ekonomi global berisiko tinggi. Target strategisnya berada di kawasan yang mengontrol jalur energi paling vital di dunia. 

Reaksi pasar energi langsung muncul karena risiko terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut sempit antara Iran dan Oman yang menjadi arteri utama perdagangan energi global.

Pasar memahami satu fakta sederhana: perang di Iran tidak ekuivalen dengan konflik regional, tetapi berpotensi menjadi systemic supply shock. Pasar spontan menunjukkan reaksi investor yang langsung memusatkan perhatian pada ancaman terhadap arus energi global dan stabilitas harga minyak pasca-serangan tersebut. 

Dalam perspektif geopolitik energi, eskalasi konflik menuju Iran tidak berdiri sendiri. Pascaoperasi Amerika Serikat di Venezuela pada awal 2026, yang berujung pada perubahan kekuasaan di Karakas dan pembukaan kembali sektor minyak bagi perusahaan Barat, terlihat pola strategis yang lebih luas: reposisi kendali atas dua episentrum energi dunia secara simultan. 

BACA JUGA:Trump Beri Waktu Iran 48 Jam untuk Buka Selat Hormuz, Ancam Musnahkan Jaringan Listrik

BACA JUGA:Mojtaba Khamenei Tegaskan Komitmen Pertahankan Blokade Selat Hormuz

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, sedangkan Iran berada di jantung sistem rantai pasok dan distribusi energi global melalui kedekatannya dengan Selat Hormuz. 

Setelah Washington melonggarkan sanksi dan memberikan izin luas kepada perusahaan energi AS untuk mengelola, mengekspor, dan memasarkan minyak Venezuela, arah kebijakan energi global AS tampak bergeser dari sekadar containment menuju re-engineering struktur pasokan energi internasional.

Dari Karakas ke Teheran, benang merahnya tidak bermuara dari aspek ideologi, tetapi dari stabilisasi, sekaligus dominasi, arsitektur energi global. 

Venezuela merepresentasikan sisi supply control (penguasaan cadangan minyak terbesar di hemisfer Barat), sedangkan Iran merepresentasikan kontrol transit (pengaruh atas jalur distribusi minyak paling vital di dunia). 

BACA JUGA:Insiden Kapal di Selat Hormuz, KBRI Upayakan Pencarian Tiga WNI

BACA JUGA:3 ABK WNI Hilang usai Kapal Tugboat Meledak di Selat Hormuz

Dalam logika ekonomi politik klasik, ”barangsiapa yang menguasai produksi dan jalur distribusi secara bersamaan, niscaya memiliki kemampuan menentukan harga energi global secara tidak langsung.”

Sejumlah analis kebijakan energi menilai perubahan kebijakan Washington terhadap Venezuela, termasuk membuka kembali ekspor minyak dan keterlibatan perusahaan energi Barat, merupakan upaya menambah pasokan global sekaligus menekan volatilitas harga minyak. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: selat hormuz