Banjir di Pasuruan, Masyarakat Sindir Rusaknya Lereng Gunung Bromo, Welirang, dan Arjuno
Masyarakat kritik ketegasan Pemkab Pasuruan menyelematkan kondisi hutan di lereng-lereng gunung yang beralih fungsi -Lailiyah Rahmawati -
PASURUAN, HARIAN DISWAY - Banjir yang mengepung beberapa kecamatan di wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan, Selasa, 24 Maret 2026 meninggalkan persoalan serius terkait kondisi lereng-lereng gunung yang mengitari Pasuruan. Masyarakat di media sosial ramai mengkritik dan menuntut keseriusan pemerintah daerah untuk menyelamatkan lereng-lereng Gunung Bromo, Welirang, dan Arjuno.
Alih fungsi hutan yang didiamkan diduga menjadi penyebab utama semakin parahnya banjir yang menerjang Kota dan Kabupaten Pasuruan. Masyarakat di media sosial menuntut Pemerintah Kabupaten Pasuruan serius menentang rencana pembangunan real estate yang mengancam semakin rusaknya lereng Gunung Arjuno.
"Wilayah timur wes alih fungsi dadi tambang. Wilayah selatan alih fungsi dadi vila, hotel, kebun sayur," ujar Alwi salah satu masyarakat Kabupaten Pasuruan.
Bukan hanya menyoroti alih fungsi lahan di dataran tinggi yang mengelilingi Pasuruan. Masyarakat juga mengkritik alih fungsi sawah menjadi pabrik dan perumahan. Banjir yang menerjang Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, misalnya, dianggap karena semakin berkurangnya sawah yang menjadi resapan air hujan.
BACA JUGA:Kota dan Kabupaten Pasuruan Dikepung Banjir Parah, Arus Balik Jalur Pantura Tersendat
BACA JUGA:Petani Pasuruan Ini Gunakan Susu Sapi dan Daun Mimbo untuk Pupuk Padi, Panennya Melimpah!
"Wilayah Yonkav Beji terparah sekara gara-gara sawah jadi perumahan semua," kata Muhlis.
DPRD Kabupaten Pasuruan sendiri sudah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Pembangunan Real Estate di Kawasan Lereng Arjuno–Welirang (Prigen). Pansus DPRD dikabarkan melaksanakan kunjungan lapangan terkait Tanah Pengganti Kawasan Hutan (TPKH) Real Estate Prigen di KPH Malang sekitar Februari lalu. Kunjungan lapangan tersebut bertujuan untuk memastikan kesesuaian dan kejelasan pelaksanaan TPKH agar berjalan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Samsul Hidayat mengatakan, pihaknya pasti akan mempertimbangkan semua aspirasi masyarakat.
"Pastinya kami akan menampung dan mengawal aspirasi dari semua elemen masyarakat," ujarnya.
Sementara banjir di Kota Pasuruan juga dikarenakan kiriman air dari wilayah atas (Kabupaten Pasuruan). Padahal, sebelumnya Pemprov Jawa Timur telah melakukan pengerukan Sungai Petung. Namun, debit air bah kiriman tetap tidak dapat tertampung.
BACA JUGA:Reses, Wakil Ketua Komisi I DPRD Sampaikan PBI BPJS di Kota Pasuruan Aman
BACA JUGA:Ironis, Stunting di Pasuruan pun Menyasar Anak-Anak dari Keluarga Mampu
"Pengerukan hanya 1 kilometer panjangnya jelas tidak pengaruh ke daya tampung. Kiriman air dari atas jauh lebih besar," kata Basori salah satu warga sekitar Blandongan, Kota Pasuruan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: