7 Jam Menemani Wisatawan Asing Pelesiran di Surabaya, Sidoarjo, & Trowulan: Harus Taat Jadwal dan Tepat Waktu

7 Jam Menemani Wisatawan Asing Pelesiran di Surabaya, Sidoarjo, & Trowulan: Harus Taat Jadwal dan Tepat Waktu

TARI GANDRUNG BANYUWANGI menyambut para wisatawan dari kapal pesiar Viking Venus di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo.--Yoni Astuti untuk Harian Disway

Kapal pesiar Viking Venus kembali bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak. Turis asing yang menjadi penumpangnya pun berkesempatan jalan-jalan di Surabaya, Sidoarjo, dan Trowulan.

BUS-BUS berderet rapi di pelabuhan pada 12 Maret 2026. Total, 25 armada. Krunya siap mengantarkan 814 wisatawan ke empat destinasi wisata yang telah disepakati. Mereka disiapkan oleh Cruise Asia. Tentu saja, ada pramuwisata di tiap-tiap bus. 

Empat paket wisata disiapkan hari itu. Sebanyak dua bus memilih paket Heritage of Surabaya. Sebanyak tiga bus membawa pelancong ke paket Sight of Surabaya. Sebanyak 19 bus mengantarkan wisatawan ke Museum Mpu Tantular dan Kampung Wisata Peneleh. Sedangkan, satu bus sisanya melaju ke Trowulan. 

Sebanyak 33 pramuwisata di bawah naungan DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Surabaya bertugas hari itu. Sebanyak 8 orang menjadi koordinator. Sedangkan, 25 yang lain mendampingi wisatawan dalam tiap bus. 

BACA JUGA:2.005 Wiswan Kunjungi Surabaya dengan Kapal Pesiar AIDAbella

BACA JUGA:Perusahaan Singapura Luncurkan Kapal Pesiar Mewah Untuk Kucing


YONI ASTUTI (kanan) memandu wisatawan asing yang sebagian besar sudah berusia lanjut di Kampung Wisata Peneleh, Surabaya.--Yoni Astuti untuk Harian Disway

Sebagai pramuwisata, saya bertugas menjelaskan tentang sejarah, budaya, kearifan lokal, makanan, kesenian, dan beberapa hal lainnya tentang destinasi wisata yang dituju.

Karena sudah berulang kali saya lakukan, sebenarnya tugas itu tidak susah. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menyampaikan wawasan itu tanpa mengganggu leisure time para wisatawan. 

Kenyamanan tetap menjadi prioritas. Apalagi, sebanyak 90 persen wisatawan yang kami dampingi sudah lanjut usia. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan tongkat dan harus dibantu kursi roda untuk mobilitas. 

Agar pramuwisata bisa berfokus pada para pelancong yang ditemani, delapan koordinator mempersiapkan segala keperluan di lapangan. Mulai dari memastikan ketersediaan tempat parkir, mengecek kebersihan toilet, mengecek kesiapan UMKM, mengecek menu makan siang dan refreshment, serta berkoordinasi dengan petugas di tempat tujuan wisata.

BACA JUGA:Kesempatan Berlayar dengan Kapal Pesiar bersama 7 Journeys in Doha Vasa Hotel

BACA JUGA:Kapal Pesiar Seven Seas Explorer Mampir ke Tanjung Perak, Cuma Sampai Pukul 16.00!


WISATAWAN berinteraksi langsung dengan warga Kampung Wisata Peneleh. Ia melihat proses pembuatan canang sari.--Yoni Astuti untuk Harian Disway

"Mohon benar-benar diperhitungkan waktunya saat berada di destinasi wisata. Tiap lokasi hanya ada waktu antara 30-45 menit," seru para koordinator. Mereka memastikan pramuwisata seperti saya taat jadwal. Sebab, waktunya sangat singkat.

Paket Heritage of Surabaya membawa wisatawan melihat-lihat lokasi dan bangunan bersejarah di Surabaya. Mereka mengunjungi Monumen Tugu Pahlawan, Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, dan Hotel Majapahit. 

Pramuwisata harus bisa menceritakan kaitan tempat-tempat itu dengan sejarah Surabaya. Utamanya, alasan historis di balik julukan Kota Pahlawan yang melekat di ibu kota Jawa Timur tersebut.

Paket Sight of Surabaya membawa para pelancong ke Pura Jagat Karana, Klenteng Boen Bio Kapasan, Museum HOS Tjokroaminoto, dan Pasar Genteng. Pramuwisata mengisahkan Surabaya sebagai kota yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Penduduknya juga memeluk agama yang berbeda-beda.

BACA JUGA:Disney Cruise Hadir di Singapura, Pengalaman Berlayar dengan Sentuhan Ajaib

BACA JUGA:Kampung Wisata Heritage Peneleh Raih Juara 2 Surabaya Tourism Awards 2025

Paket wisata Museum Mpu Tantular dan Kampung Wisata Peneleh Heritage paling diminati. Maka, agar 19 bus tidak menumpuk di satu tempat, pemberangkatan diberi jeda.
.
Di Kampung Wisata Peneleh, pelancong bisa menyaksikan langsung aktivitas sehari-hari masyarakat. Para wisatawan diajak berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil di kampung tersebut. Sepanjang perjalanan, pramuwisata mengisahkan budaya dan kearifan lokal yang lekat di kampung multietnis tersebut.


GARUDEYA yang merupakan motif perhiasan era Kerajaan Majapahit menarik perhatian para wisatawan Viking Venus yang mengunjungi Museum Mpu Tantular, Sidoarjo. --Yoni Astuti untuk Harian Disway

Tari Gandrung Banyuwangi dan kue-kue tradisional menyambut wisatawan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo. Di dalam museum, mereka diajak melihat koleksi perhiasan kalung emas 22 karat dari era Raja Airlangga. Kalung seberat 1.163,09 gram itu dihiasi relief Garudeya dan batu permata. 

"Ruangan ini dapat dimasuki karena ada kunjungan dari para penumpang Viking Venus. Sehari-harinya, ruangan ini ditutup. Pengunjung biasanya melihat koleksi perhiasan dari balik pintu berteralis," kata petugas museum.

BACA JUGA:Tim Pengmas Basasindo Unair Dampingi Penyusunan Naskah Kuno Koleksi Museum Mpu Tantular

BACA JUGA:Replika Kota Raja Trowulan Rp7,7 M Hadir di Pameran Furnitur dan Kerajinan se-Jawa Timur

Di Trowulan, wisatawan mengunjungi Pendopo Agung, Candi Tikus, dan Candi Bajang Ratu. Mereka bisa melihat langsung peninggalan Kerajaan Majapahit yang merupakan Kerajaan Hindu terbesar pada abad ke-13 hingga abad ke-15. Baik berupa candi, patung, dan artefak yang ditemukan di sekitar situs Trowulan.

Viking Venus hanya bersandar tujuh jam di Surabaya. Mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Dari Surabaya, para pelancong melanjutkan pelesiran mereka ke Semarang dan Singapura. 

Dalam kunjungan sesingkat itu, para pramuwisata harus bisa menyajikan Surabaya dalam kisah dan kesan terbaik. Itu supaya para pelancong punya kenangan manis dan suatu hari nanti kembali lagi ke Surabaya. (*)

BACA JUGA:Narasi dari Balik Kampung Kota Peneleh, Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: