Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (2): Kampung Batik Jetis, Musala Tiap Gang dan Jejak Dakwah Islam
Motif kembang kenanga yang dipercaya diciptakan oleh Mbah Rukhani. Mengandung harapan agar batik Jetis memiliki nama yang harum dan dikenal banyak orang.-Boy Slamet-Harian Disway
BACA JUGA:Peluncuran Buku Seribu Gagasan Omah Ndhuwur, Hadirkan Perspektif Kritis tentang Kampung Bangunrejo
BACA JUGA:Jeritan Kampung Dupak Bangunrejo Lewat Drama Monolog Sangkan Paran: Jantung Tanpa Hati
Hal tersebut berjalan hingga kini. Namun, semua pebatik, khususnya pebatik asli Kampung Jetis, meyakini bahwa leluhur mereka adalah murid dari Mbah Rukhani dan Mbah Yai Kosim.

Motif burung dan kembang kenanga pada produk batik khas Jetis, Sidoarjo. Dikenal pula dengan warna-warnanya yang cerah.-Boy Slamet-Harian Disway
"Mbah Rukhani itu hidup selibat. Ia tak menikah. Lebih memilih berfokus menyejahterakan warga dengan memberi kemampuan membatik. Pun, fokus mengembangkan agama Islam lewat batik," terang kakek 3 cucu itu.
Dulu, Batik Jetis punya nama besar. "Orang-orang kaya dari berbagai daerah datang ke sini. Karena tertarik dengan keindahan Batik Jetis. Market paling besar berasal dari Madura. Bahkan sampai sekarang. Terutama bangsawan-bangsawan Sumenep," ungkapnya.
Itu yang membuat corak Batik Jetis memiliki kekhasan. Yakni warna yang cerah. Biasanya warna merah dan kuning sangat dominan. "Karena warna-warna itu merupakan warna kesukaan pelanggan Madura," ujarnya.
BACA JUGA:Gerakan Kebudayaan Kampung Bangunrejo
BACA JUGA:Kampung Kemuteran, Pusat Home Industry Songkok di Kota Gresik
Hal itu diamini oleh Rinaldi Kurnia, satu-satunya pengusaha batik muda yang tersisa di Jetis. "Sampai kini kecenderungan itu masih eksis. Bahkan pelanggan kami masih banyak dari Madura. Dulu, pakai Batik Jetis itu dianggap orang kaya. Orang besar. Punya jabatan. Atau trah keturunan bangsawan," ujarnya.
Cerita sejarah dan kegemilangan itu masih ada dan dituturkan turun-temurun. Namun, saat ini berbanding terbalik dengan kondisi Kampung Batik Jetis. Pengrajin semakin sedikit. Pelanggan memang masih ada. Tapi itu tidak bisa jadi tumpuan hidup.
Jika tak ada upaya lebih lanjut, eksistensi Kampung Batik Jetis akan berubah menjadi cerita lampau. Kampungnya pernah ada. Pernah besar. Lalu hilang karena tak ada penerusnya. (*)
*Ada harga, ada kualitas, baca seri selanjutnya...
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway