Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (3): Kampung Batik Jetis, Canting Punya Nilai Seni
Rinaldi Kurnia, pebatik muda yang tinggal satu-satunya di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo. Ia mengelola Batik Namiroh, usahanya yang telah eksis turun-temurun.-Boy Slamet-Harian Disway
Jika di kampus, dia membatik dengan kain seadanya. Di Batik Namiroh, Salsa diberikan kain berkualitas. Seperti kain mori, prima atau primis. Kemudian saat di kampus, dia biasa menggunakan materi warna rhenasol.
"Warnanya cenderung muda. Kalau di Namiroh, saya menggunakan naptol. Memberi sentuhan pekat. Cerah. Lebih awet. Pun, customer Batik Namiroh banyak dari Madura. Mereka suka warna-warna pekat dan cerah," terang perempuan 21 tahun itu.

Salsa Herlinda Aprilia, mahasiswa dari Unesa yang sedang magang di Batik Namiroh. Dia sedang melakukan proses mencanting di atas selembar kain.-Boy Slamet-Harian Disway
BACA JUGA:Rayakan Imlek 2026, Kampung Tambak Bayan Sajikan Penampilan Tari Lintas Budaya
BACA JUGA:Kampung Pecinan Tambak Bayan Bersolek Sambut Imlek 2026, Susun Lini Masa Autentik
Satu hal yang dia kagumi dari Batik Namiroh. Yang rupanya juga dilakukan oleh pebatik-pebatik lainnya di Jetis. Bahwa mereka tidak tergoda untuk membuat batik printing.
"Sekarang sedang tren batik printing itu. Proses produksinya lebih cepat, biaya murah. Tapi Batik Namiroh lebih mengutamakan kualitas," ujar mahasiswi asal Gresik itu.
Hal itu memang dipegang teguh secara turun-temurun. Mulai dari pendiri Batik Namiroh Mbah Sholeh Imam dan Mbah Musyafa'ah, istrinya.
Kemudian diteruskan oleh Ratna Tuty Mufidah hingga Rinaldi Kurnia, putranya. Rinal saat ini menjadi pebatik muda satu-satunya yang dimiliki Kampung Jetis.
BACA JUGA:Pembebasan Lahan Kampung Taman Pelangi Surabaya Tuntas, Fly Over Segera Dibangun
BACA JUGA:Masjid Wal Adhuna Jadi Saksi Bisu Tenggelamnya Kampung Nelayan di Muara Baru
"Tren printing memang cukup menggoda. Hal itu sudah ada sejak lama. Tapi kami tetap mengutamakan kualitas. Prosesnya manual. Canting. Bertahap.
Hasilnya lebih artistik. Lebih punya nilai seni. Tahan lama. Meski harganya memang jauh lebih mahal," ujar Rinal.
Ia bahkan masih menyimpan kain-kain batik masa silam. Kain yang dihasilkan dari tangan-tangan pebatik lampau. Warnanya masih jelas. Tak pudar. Seperti kain batik gendongan yang dimiliki Rinal.
"Dari buyut punya anak kakek. Dari kakek punya anak ibu saya. Sampai ke saya, saya gunakan untuk anak. Masih awet. Masih bisa dipakai untuk cucu saya kelak," ujarnya, kemudian tertawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway