Tren Bed Rotting, Cara Healing Gen Z dari Burnout

Tren Bed Rotting, Cara Healing Gen Z dari Burnout

Di balik kasur, ada upaya memulihkan diri.--Pinterest

HARIAN DISWAY - Fenomena bed rotting kian ramai diperbincangkan di kalangan generasi muda. Istilah itu populer di media sosial. Merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Tanpa aktivitas produktif. 

Sekilas terlihat seperti kemalasan. Namun, tren itu justru disebut sebagai cara sederhana Gen Z mengatasi kelelahan mental atau burnout. Bed rotting umumnya dilakukan dengan rebahan sepanjang hari. 

Aktivitasnya beragam. Mulai dari scrolling media sosial, menonton film, hingga sekadar beristirahat tanpa tujuan tertentu. Tren itu banyak dilakukan setelah hari kerja yang padat. At au saat akhir pekan.


Rebahan seharian, tren baru lawan burnout.-dok Disway-

Pengamat gaya hidup digital menilai, kemunculan tren itu tidak lepas dari perubahan pola hidup generasi muda.

BACA JUGA:Tall Poppy Syndrome, Fenomena Iri saat Orang Lain Lebih Bersinar

BACA JUGA:Fenomena Burnout pada Remaja: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya di Era Digital

Tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, serta paparan media sosial yang tinggi. Semua itu membuat banyak anak muda mengalami kelelahan emosional.

Burnout bukan hanya soal capek fisik. Ada tekanan mental yang terus menumpuk dan butuh jeda. Dalam kondisi tersebut, bed rotting menjadi bentuk respons instan. Tubuh dan pikiran memilih berhenti total. Tidak ada target. Tidak ada tuntutan. Hanya istirahat.

Namun, fenomena itu tidak sepenuhnya tanpa risiko. Psikolog mengingatkan agar tidak terbiasa terlalu lama berada di tempat tidur.

Sebab, itu dapat berdampak pada penurunan motivasi dan produktivitas. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi itu berpotensi memicu perasaan bersalah. Hingga gangguan suasana hati.


Tubuh memang perlu istirahat, tapi jika terlalu banyak rebahan hingga malah berolahraga justru akan menimbulkan banyak penyakit bagi tubuh. Diabetes salah satunya. --iStockphoto: Hlrurg

BACA JUGA:Fenomena Fatherless Country: Ketika Peran Emosional Ayah Jarang Dibahas di Indonesia

BACA JUGA:Fenomena Sharenting, Jejak Digital Anak dan Batas Etis Orang Tua

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: