Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (11): Kampung Topi Punggul Kekurangan Tenaga Penjahit

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (11): Kampung Topi Punggul Kekurangan Tenaga Penjahit

Ali Murtadho, salah seorang pemilik UMKM topi di Kampung Topi Punggul, Sidoarjo. Ia rutin mengirimkan ribuan topi ke berbagai daerah.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

Tantangan bagi UMKM Kampung Topi Punggul adalah minimnya penjahit. Tenaga kerja itu sangat dibutuhkan. Terutama saat mendekati Tahun Ajaran Baru. Para pengusaha terpaksa mencarinya ke luar kota. Biayanya lebih terjangkau. Tidak begitu membebani biaya produksi.

Terdapat beberapa penanda yang menunjukkan lokasi Kampung Topi Punggul. Soal branding, Pemerintah Daerah Sidoarjo telah banyak membantu. Di situ, dulu terdapat tugu berbentuk topi. Tugu ikonik. Tapi sayang, saat ini tinggal kerangkanya saja. 

Siang hari di Kampung Topi Punggul, suara mesin jahit seakan saling mengejar satu sama lain. Para pekerja tengah beraktivitas. Di kampung itu, bangunan berderet memanjang di kanan-kiri. Banyak di antaranya memiliki etalase kaca. 

Tampak beragam topi tersusun rapi. Paling banyak topi untuk seragam. Baik sekolah maupun kedinasan. Di salah satu bangunan milik Ali Murtadho, pengusaha UMKM setempat, tampak seorang lelaki paruh baya. 

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (10): Kampung Topi Punggul, UMKM Jadi Pilar Ekonomi Desa

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (9): Kampung Tas Tanggulangin Sepi di Etalase, Ramai di Produksi


Penjahit yang bekerja di UMKM milik Ali Murtadho. Kini, Kampung Topi Punggul sedang krisis penjahit. Penerusnya minim.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

Ia menjahit logo sekolah di atas lusinan kain merah berbahan Famatex. Di sampingnya terdapat beberapa karung. Isinya tumpukan topi sekolah.

Semua itu akan dikirim ke luar daerah. Pesanan dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari topi SD, SMP, hingga SMA. 

Syarifullah, namanya. Ia berasal dari Sumbawa. Ia merupakan partner kerja sekaligus teman dekat Ali. Tepatnya saat mereka sama-sama berkuliah di Universitas Bhayangkara Surabaya.

Syarif berkisah bahwa usaha topi yang mereka jalankan telah mengirim ribuan produk. Baik ke Jawa maupun luar Jawa. 

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (8): Kampung Tas Tanggulangin, Perajin Tak Cukup Andalkan Jahitan

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (7): Kampung Tas Tanggulangin, Eksis Meski Terhimpit

Bahkan luar negeri. Mereka memiliki customer dari Timor Leste. Memesan ratusan produk topi untuk keperluan aksesoris seragam.

"Perwakilan pemerintahan Timor Leste pernah kemari. Memesan banyak produk. Itu satu-satunya pelanggan kami dari luar negeri," ujarnya, kemudian tersenyum. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway