Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (14): Kampung Sepatu dan Sandal Wedoro dan Geliat yang Tersisa

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (14): Kampung Sepatu dan Sandal Wedoro dan Geliat yang Tersisa

Pertokoan Sepatu-Sandal Palapa. Tampak banya gerai tutup. Kini, hampir tak ada gerai pedagang sandal dan sepatu.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

Identitas Wedoro sebagai kampung sepatu dan sandal telah redup. Bahkan bisa dibilang hilang. Namun, ada yang masih bertahan. Ketekunan dan konsistensinya membuahkan hasil. Meski hasil yang diterima tak sebesar dulu.

Masih terik di luar. Tapi suasana di dalam koridor Pertokoan Sepatu Sandal Palapa justru terasa redup. Banyak gerai tutup. Sinar matahari tak begitu menjangkau lorong kawasan yang pernah memiliki nama besar itu. 

Pada 6 Februari 2026, sesuai arahan dari Ima, pemilik toko sepatu dan sandal di area depan pertokoan, Harian Disway menemui perajin yang masih aktif. Melihat lebih dekat bagaimana dinamika produksi yang masih berjalan.

Di bagian depan pertokoan riuh dengan transaksi sayur-mayur. Pasar tradisional. Di dalam pojok koridor pertokoan suasananya jauh berbeda. Ujung lorong itu memancarkan cahaya lampu yang terang. Terdapat dua ruang di situ. 

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (12): Kampung Topi Punggul Butuh SDM Paham Digital


Aktivitas produksi di bengkel milik Muhammad Aminulloh. Ia merupakan satu dari sedikit perajin sandal dan sepatu yang masih bertahan.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

Di ruangan pertama, terdapat tumpukan eva spons. Yakni bahan baku pembuatan alas kaki. Lembaran-lembaran spons berwarna hitam itu memadati hampir setiap sisi ruang. Hingga hanya menyisakan area di tengah.

Di tengah tumpukan bahan baku itulah Muhammad Aminulloh bekerja. Ia sedang fokus mengerjakan pola-pola sandal pada permukaan spons. Di sela pekerjaannya, ia antusias menanggapi pertanyaan dari Harian Disway. 

Ia menyebut bahwa produksi alas kakinya itu telah ditekuni sejak 2010. Sudah 16 tahun. Selama itu Amin menggantungkan hidup dari bisnis alas kaki tersebut.

Selama belasan tahun pula ia telah melewati masa transisi industri di Wedoro. Dari masa jaya hingga perlahan memudar.

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (11): Kampung Topi Punggul Kekurangan Tenaga Penjahit

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (10): Kampung Topi Punggul, UMKM Jadi Pilar Ekonomi Desa

“Ini dulu jual sandal semua. Sampai ujung paling depan full jualan sandal. Sekarang sudah tidak ada,” ujarnya, sambil menunjukkan area sekeliling pertokoan. Kini, hanya ia yang tersisa. 

Amin mengenang kejayaan industri sandal Wedoro. Dulu bahkan sempat menembus pasar internasional. “Kami pernah ekspor. Seperti ke Malaysia dan Singapura. Sekarang sudah lama tidak jalan,” ungkapnya.

Produksi di bengkel milik Amin itu memang dikhususkan pada model sepatu dan sandal. Ciri khas produknya adalah penggunaan alas kaki. Semuanya berwarna hitam. Dengan motif tekstur tertentu pada permukaannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway