Membedah Sisi Psikologis Reyog Ponorogo: Ruang Pembentukan Identitas dan Mental Tangguh

Membedah Sisi Psikologis Reyog Ponorogo: Ruang Pembentukan Identitas dan Mental Tangguh

Membedah Sisi Psikologis Reyog Ponorogo: Ruang Pembentukan Identitas dan Mental Tangguh.-Salman Muhiddin-Nano Banana 2

Kita sedang hidup di zaman yang pandai bertepuk tangan, tetapi malas mewariskan. Itulah ironi terbesar kebudayaan kita hari ini. Yang ramai dipuji adalah panggungnya. Yang sering dilupakan adalah jiwanya. Reyog Ponorogo mengalami nasib itu.

Reog dielu-elukan saat festival, direkam saat atraksinya memukau, dibanggakan saat namanya mendunia, tetapi belum selalu dipahami sebagai ruang tempat identitas, disiplin, dan harga diri kolektif dibentuk.

Kita senang menonton Reyog. Tetapi belum tentu sungguh-sungguh memaknainya.

Padahal, di balik topeng Singa Barong yang megah, gerak Jathil yang dinamis, sosok Warok yang penuh wibawa, dan lincahnya Bujang Ganong, Reyog menyimpan sesuatu yang jauh lebih penting daripada tontonan yaitu pembentukan manusia.

Reyog bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah ruang sosial tempat seseorang belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. 

BACA JUGA:45 Ribu Pengunjung Isi Libur Nataru di KBS, Komodo-Atraksi Reog Jadi Daya Tarik

BACA JUGA:KPK Mulai Usut Pembangunan Proyek Monumen Reog ?

Di sinilah psikologi membantu kita memahami Reyog secara lebih dalam. Dalam Social Identity Theory yang dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner, identitas manusia tidak hanya dibentuk oleh dirinya sebagai individu, tetapi juga oleh kelompok yang ia rasa sebagai “kami”.

Ketika seseorang menjadi bagian dari komunitas Reyog, ia tidak hanya belajar memainkan peran di atas panggung. Ia sedang membangun identitas sosial: merasa memiliki kelompok, menjaga nama komunitas, dan menautkan harga dirinya dengan tradisi yang diwarisinya.

Karena itu, seorang pembarong tidak sekadar mengangkat topeng berat. Ia membawa nama kelompoknya. Seorang penari Jathil tidak hanya menampilkan gerak yang indah.

Ia sedang mewakili tata nilai yang dijaga komunitasnya. Dalam Reyog, penampilan bukan hanya soal estetika. Ia adalah soal martabat.

Ini yang sering gagal dibaca oleh masyarakat modern yang serba instan. Kita melihat hasil, tetapi melupakan proses.

Kita melihat kemeriahan, tetapi menutup mata terhadap latihan panjang, teguran dari senior, disiplin tubuh, pengendalian emosi, dan rasa tanggung jawab yang dibangun perlahan. Reyog hidup bukan hanya pada saat dipentaskan, tetapi terutama pada saat diwariskan.

BACA JUGA:Majelis Zikir Surau Qutubul Amin (SQA) Mendoakan Monumen Reog Ponorogo Mendunia

BACA JUGA:Grebeg Suro 2025: Festival Reog Ponorogo Meriahkan Tradisi Leluhur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: