Seminar Untag Surabaya Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja, Tekankan Pentingnya Sikap dan Mental
Seminar Untag Surabaya Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja, Tekankan Pentingnya Sikap dan Mental-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway
“Ijazah itu hanya sekitar 30 persen sebagai pembuka jalan. Tapi 70 persen itu ditentukan oleh sikap kita,” tegasnya
Dalam paparannya, Bawinda juga mengingatkan pentingnya soft skill. Terutama komunikasi. Kemampuan berbicara dan menyampaikan ide dinilai menjadi kunci utama. Terutama saat proses rekrutmen berlangsung.
“Pintar saja tidak cukup. Kalau tidak bisa dikomunikasikan, orang juga tidak akan tahu kemampuan kita,” ujarnya.
BACA JUGA:Seminar Be The Connector di Untag Surabaya, Dorong Mahasiswa Bangun Personal Branding Autentik
BACA JUGA:Stop Gagal Panen: Dosen Untag Surabaya Manfaatkan PLTS untuk Basmi Hama Grayak

Dr. Bawinda Sri Lestari, S.H., M.PSI., saat memperagakan bagaimana sikap duduk yang benar saat menghadapi interview-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway
Selain itu, ia menyoroti kesalahan umum yang sering dilakukan fresh graduate. Seperti terlalu fokus pada gaji saat awal bekerja. Menurutnya, orientasi tersebut justru dapat menghambat perkembangan karier.
“Kalau bekerja hanya soal gaji, kita akan mudah berhenti. Tapi kalau bekerja untuk berkembang, kita akan terus melangkah,” ungkapnya.
Dalam sesi tersebut, peserta juga dibekali dengan teknik menghadapi wawancara kerja. Mulai dari cara masuk ruangan, bahasa tubuh, hingga cara menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Pemateri menegaskan bahwa kesan pertama menjadi faktor penting dalam proses seleksi.
“Kesan pertama itu terjadi dalam 5 sampai 7 detik. Bahkan sebelum kita bicara, sikap kita sudah dinilai,” jelasnya.
BACA JUGA:RESPIRE: Ngangin Tampilkan Inovasi Kolaboratif Untag Surabaya, Hadirkan Bangunan Ramah Lingkungan
BACA JUGA:Usung Timeless, Negeri Komunikasi 2025 Rayakan Enam Tahun Perjalanan Kreatif Mahasiswa Untag
Sementara itu, Innove Hanna Nadapdap, ketua pelaksana acara, mengungkapkan bahwa seminar itu diinisiasi sebagai respons atas kebutuhan mahasiswa dalam memahami dunia kerja secara praktis.
“Menurut saya, kita ini generasi yang bisa kerja. Tapi tidak tahu caranya interview. Dengan menghadirkan pemateri yang berpengalaman, kami ingin membantu teman-teman lebih siap menghadapi dunia kerja,” ujar Hanna.
Ia menambahkan, kegiatan itu juga bertujuan mengurangi rasa gugup mahasiswa. Terutama saat menghadapi wawancara kerja di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: