Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka
ILUSTRASI Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
ADA yang salah dengan cara kita berpikir tentang garam. Di Madura, petani berjalan di atas kristal putih setiap hari. Mereka memanen, menjemur, dan menunggu harga yang sering kali jatuh tanpa ampun.
Di Jakarta, pemerintah bicara tentang swasembada. Di rumah sakit, cairan infus terus menetes mengalirkan garam dari luar negeri ke tubuh warga negara sendiri. Itu bukan sekadar ironi. Itu kegagalan.
Mari kita bicara dengan angka, bukan slogan. Indonesia masih mengimpor garam dalam jumlah besar, bahkan untuk kebutuhan industri dasar. Data menunjukkan, impor garam industri bisa mencapai hingga 3,7 juta ton per tahun (Simamora & Deliana, 2021).
Padahal, produksi domestik tersedia, tetapi ”tidak cukup baik” untuk industri. Tidak cukup murni. Tidak cukup standar. Tidak cukup industri.
BACA JUGA:Kampanye GGL (Gula, Garam, dan Lemak) Kreatif oleh Mahasiswa UNAIR Raih Juara 1 Kompetisi Nasional
Pertanyaannya: mengapa setelah puluhan tahun, kita masih berkutat pada kata ”tidak cukup”?
Masalahnya bukan pada petani. Itu penting ditegaskan. Masalahnya ada pada negara yang terlalu lama nyaman menjadikan impor sebagai jalan pintas.
Alih-alih membangun industri pemurnian garam, kebijakan justru berkutat pada tambal sulam: pembatasan impor di satu sisi, tetapi tetap membuka keran di sisi lain karena industri ”tidak siap”. Itu bukan strategi. Itu kompromi yang berulang.
Lebih parah lagi, fokus kebijakan masih berhenti pada garam konsumsi, seolah persoalan utama hanya dapur rumah tangga. Padahal, dunia sudah lama bergerak ke arah lain: garam sebagai bahan baku industri strategis.
BACA JUGA:Penuhi Asupan Yodium: 5 Manfaat Garam Beryodium untuk Kesehatan
BACA JUGA:5 Cara Menghilangkan Noda Karat di Baju, Salah Satunya Pakai Garam
Dunia hari ini sedang berubah dan tidak ke arah yang lebih ramah. Pandemi Covid-19, perang Ukraina, dan ketegangan geopolitik global telah menunjukkan satu fakta telanjang: ketergantungan impor adalah risiko, bukan efisiensi (Patunru, 2023; Harahap, 2026).
Rantai pasok global rapuh. Negara-negara mulai mengamankan bahan bakunya sendiri. Bahkan, untuk komoditas sederhana, logika geopolitik kini berlaku: siapa menguasai pasokan, mereka menguasai ketahanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: