Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka

Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka

ILUSTRASI Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Jadi, ketika kita masih mengimpor, saya tidak lagi melihat itu sebagai keterbatasan teknis. Saya melihatnya sebagai pilihan.

Di sinilah Madura menjadi simbol KEGAGALAN sekaligus HARAPAN.

Selama ini petani garam diposisikan di ujung rantai paling lemah, menjual bahan mentah dengan harga yang ditentukan pasar. Tidak ada jaminan, tidak ada integrasi industri, tidak ada lompatan nilai tambah.

Padahal, jika negara serius, Madura bisa menjadi pusat industri garam nasional, bukan hanya untuk konsumsi, melainkan juga untuk farmasi, pakan ternak, hingga bahan baku kimia dasar.

Tetapi, itu membutuhkan satu hal yang selama ini tampak langka: keberanian untuk berhenti bergantung.

Indonesia sering berbicara tentang hilirisasi. Kita bangga melakukannya pada nikel. Kita memahami pentingnya nilai tambah. Namun, ketika sampai pada garam, yakni komoditas yang jauh lebih sederhana, kita justru menyerah sebelum bertanding.

Mengapa?

Apakah karena garam dianggap terlalu kecil untuk diperjuangkan? Atau, karena ketergantungan sudah terlalu nyaman?

Sejarah menunjukkan bahwa kedaulatan tidak dibangun dari hal-hal besar saja. Ia justru lahir dari penguasaan atas hal-hal paling mendasar: pangan, energi, dan bahan baku.

Garam adalah salah satunya. Dan, hari ini kita gagal menguasainya. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak pernah benar-benar mencoba.

Jika keadaan itu terus dibiarkan, ironi tersebut akan tetap hidup: petani Madura akan terus memanen garam yang tidak pernah benar-benar dihargai.

Industri akan terus bergantung pada impor yang tidak pernah benar-benar aman.

Dan, negara akan terus berbicara tentang kemandirian yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Sebagai orang Madura, bagian itulah yang paling sulit saya terima.

Saya melihat petani garam terus bekerja dalam ketidakpastian harga. Saya melihat kebijakan yang lebih fokus pada stabilisasi pasar konsumsi, tetapi belum serius membangun jembatan ke industri bernilai tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: