Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka

Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka

ILUSTRASI Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Lalu, Indonesia? Kita masih berdebat apakah garam lokal cukup putih.

Bayangkan skenario sederhana. Jika suatu hari negara pemasok membatasi ekspor –entah karena konflik, krisis, atau sekadar kepentingan nasional, apa yang terjadi? 

BACA JUGA:Konsumsi Gula, Garam, Lemak dan Ancaman Penyakit Tidak Menular

BACA JUGA:Tambang Emas Pulau Madura

Pabrik berhenti. Produksi terganggu. Dan, yang paling mengkhawatirkan: industri farmasi ikut terdampak.

Sebab, kita lupa satu hal mendasar: garam adalah bahan baku cairan infus.

Ini bukan lagi soal ekonomi. Ini soal kesehatan publik. Soal nyawa.

Yang membuat situasi ini makin absurd adalah fakta bahwa solusi sebenarnya sudah lama ada.

Secara ilmiah, tidak ada yang istimewa dari garam impor. Garam lokal bisa dimurnikan hingga standar farmasi melalui teknologi yang relatif mapan: rekristalisasi, pemurnian kimia, hingga filtrasi membran. Banyak penelitian telah membuktikan itu. Jadi, sekali lagi: ini bukan masalah sains, ini masalah kemauan politik.

Ada satu pertanyaan yang sudah lama mengganggu saya, tetapi mungkin terlalu sering saya abaikan: mengapa garam yang saya ajarkan di kelas, yang saya gunakan dalam praktik farmasi, justru bukan berasal dari tanah tempat saya dilahirkan?

Padahal, di Madura, garam diproduksi setiap hari. Petani menggantungkan hidupnya pada kristal putih itu. Namun, di industri farmasi, kita masih mengimpor bahan baku yang sama dengan label ”pharmaceutical grade”.

Sebagai ilmuwan, saya tahu jawabannya.

Garam rakyat Indonesia umumnya memiliki kemurnian sekitar 85–90 persen. Untuk standar farmasi, kita membutuhkan lebih dari 99,5 persen dengan kontrol ketat terhadap impuritas seperti kalsium, magnesium, dan logam berat.

Namun, sebagai peneliti, saya juga tahu sesuatu yang lain: ini bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Penelitian menunjukkan bahwa melalui rekristalisasi, pemurnian kimia, dan teknologi seperti hydroextraction, garam lokal dapat ditingkatkan menjadi kualitas industri, bahkan farmasi (Widjaja et al., 2024; Ali et al., 2024). Teknologinya ada. Ilmunya jelas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: