Stok Minyakita di Jatim Menipis, Bulog Prioritaskan Pasar Tradisional
Perum BULOG menegaskan bahwa stok beras dan minyak goreng MinyaKita dalam kondisi aman dan mencukupi untuk mendukung penyaluran Bantuan Pangan alokasi Februari–Maret yang disalurkan sekaligus-Dok.BULOG-
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Kabar kurang sedap bagi konsumen minyak goreng di Jawa Timur. Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur melaporkan bahwa ketersediaan minyak goreng rakyat, Minyakita, saat ini dalam kondisi kritis, Kamis, 30 April 2026.
Stok yang tersisa tercatat hanya sekitar 400 ribu liter. Atau setara dengan 10 persen dari total kebutuhan bulanan masyarakat Jawa Timur.
Pimpinan Wilayah (Pimwil) Bulog Jatim, Langgeng Wisnu mengungkapkan, bahwa angka tersebut jauh dari kata ideal. Pasalnya, tingkat konsumsi masyarakat di wilayah ini mencapai angka 4,5 juta liter per bulan.
"Kebutuhan itu sekitar 4,5 juta liter per bulan. Jadi dengan stok saat ini memang sangat minim. Mudah-mudahan awal Mei nanti kita dapat pasokan lagi," ujar Langgeng saat dikonfirmasi pada Kamis.
BACA JUGA:Penggerebekan MinyaKita Tak Sesuai Takaran, Manajemen Akui Kelalaian Karyawan
BACA JUGA:Curangi Takaran MinyaKita, Dirut dan Operator PT Jaya Batavia Globalindo Jadi Tersangka
Kondisi menipisnya stok ini dipicu oleh terbatasnya suplai dari pihak produsen. Langgeng menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025, alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita diatur dengan proporsi 65 persen dikelola swasta dan 35 persen oleh BUMN Pangan.
Jatah 35 persen untuk BUMN Pangan itu pun masih harus dibagi antara Perum Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma. Dari porsi tersebut, secara nasional Bulog hanya mendapatkan jatah sekitar 50 persen untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.
"Suplai dari produsen memang terbatas. Bulog hanya menerima alokasi yang ditentukan dari pusat, dan itu sangat bergantung pada realisasi kuota ekspor para produsen," jelasnya.
Menghadapi keterbatasan ini, Bulog Jatim menerapkan strategi prioritas. Untuk sementara, pasokan Minyakita difokuskan hanya untuk pasar-pasar tradisional yang masuk dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Langkah ini diambil untuk memastikan kestabilan harga dan ketersediaan di titik-titik vital.
BACA JUGA:Prabowo Geram atas Kasus MinyaKita: Tak Ada Orang Kebal Hukum di RI
BACA JUGA:MinyaKita di Surabaya Tak Sesuai Takaran, Harga Jual Juga Melebihi HET
"Strategi kami mengutamakan pasar SP2KP. Nanti jika pasokan sudah kembali normal, kemungkinan awal Mei, baru kami distribusikan lagi ke pasar non-SP2KP," tegas Langgeng.
Meskipun harga minyak goreng kemasan premium cenderung merangkak naik akibat pembengkakan biaya kemasan plastik, Bulog menjamin harga Minyakita di tingkat konsumen tetap stabil. Harga eceran tertinggi (HET) dipastikan tetap di angka Rp15.700 per liter.
Selain urusan stok, Bulog juga mengingatkan para pengecer untuk segera melengkapi perizinan berupa Nomor Induk Berusaha (NIB). NIB menjadi syarat mutlak bagi pedagang agar bisa mengakses pasokan Minyakita secara resmi. Bulog kini terus berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan untuk membantu proses perizinan para pengecer di lapangan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: