SDM Unggul dan Godaan Militerisme

SDM Unggul dan Godaan Militerisme

ILUSTRASI SDM Unggul dan Godaan Militerisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DI tengah tuntutan membangun SDM unggul yang kreatif dan adaptif, pendekatan militeristik justru kembali dilirik dalam dunia pendidikan. Alasannya terdengar sederhana: membentuk disiplin, memperkuat nasionalisme, dan mengurangi gegar budaya generasi muda. 

Ketika pendidikan dinilai gagal membangun karakter, pendekatan militer dianggap sebagai jalan cepat menghadirkan ketertiban.

Keresahan itu tentu bukan tanpa alasan. Banyak pihak melihat generasi muda hari ini makin akrab dengan budaya instan, rendah daya tahan mental, dan terlalu larut dalam arus digitalisasi. Media sosial membentuk ritme hidup serbacepat. 

Informasi hadir dalam hitungan detik, tetapi kedalaman berpikir sering kali tertinggal. Dalam situasi seperti itu, disiplin menjadi nilai yang kembali dirindukan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.

BACA JUGA:Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM): Pembelajaran dari 80 Tahun Perjalanan Bangsa

BACA JUGA:Bonus Demografi, Gen Z, dan Tantangan SDM

Tantangan utama pembangunan SDM saat ini bukan sekadar soal kepatuhan, melainkan kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, bekerja sama, dan membaca perubahan global yang berlangsung sangat cepat. 

Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis, kreativitas, kepemimpinan, dan kolaborasi menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dunia kerja masa depan. Kepatuhan semata tidak lagi cukup menghadapi era disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan.

Di titik itulah pendidikan dan militerisme sesungguhnya memiliki watak yang berbeda.

Pendidikan tumbuh dari dialog dan pencarian makna. Dunia pendidikan membutuhkan ruang bertanya, ruang berpikir, dan keberanian menyampaikan perbedaan pendapat. Sementara itu, militerisme dibangun di atas struktur komando dan kepatuhan. Dalam dunia militer, keseragaman menjadi syarat efektivitas. Akan tetapi, dalam pendidikan, keberagaman cara berpikir justru menjadi sumber kemajuan.

BACA JUGA:Pola Diet dan Hidup Sehat untuk SDM Unggul

BACA JUGA:Pengembangan SDM ASN Melalui Inovasi

Karena itu, ketika pendekatan militeristik mulai masuk terlalu jauh ke ruang pendidikan, yang dikhawatirkan bukan hanya perubahan metode pembinaan, melainkan perubahan kultur berpikir generasi muda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: