Kurs Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp18.013 per Dolar AS, Terlemah dalam Sejarah!
Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus Rp18.013 per dolar AS pada 4 Juni 2026. Pelemahan dipicu penguatan dolar AS hingga arus keluar modal asing.--Google
BACA JUGA:Rupiah Terus Melemah, Gubernur BI: Akan Menguat Kembali pada Juli 2026
Dampak Pelemahan Rupiah
Melemahnya nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku industri yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sektor manufaktur, perdagangan, hingga pelaku UMKM yang menggunakan bahan baku impor.
BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Melemah, Budi Sulistyono Kanang: Warning Serius untuk Negeri
Selain itu, pelemahan rupiah juga berisiko meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta yang menggunakan denominasi dolar AS.
Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai dolar karena pendapatan ekspor yang diterima dalam mata uang asing menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Pasar Tunggu Respons Bank Indonesia
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Sebelumnya BI telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Namun pasar masih menilai efektivitas kebijakan tersebut di tengah kuatnya dolar AS dan berlanjutnya arus keluar modal asing.
BACA JUGA:Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000, Analis: Perlu Intervensi dan Pemangkasan Anggaran Non-Esensial
BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Purbaya: Nggak Perlu Panik, Nggak Sejelek 98!
Selain kebijakan BI, perhatian investor juga tertuju pada agenda Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat pertengahan Juni mendatang yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dengan kurs yang kini telah menyentuh Rp18.013 per dolar AS, pasar akan mencermati apakah pelemahan rupiah masih berlanjut atau mulai menemukan titik stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: