Friendship Cleanse, Tren Menyaring Pertemanan Demi Kesehatan Mental

Friendship Cleanse, Tren Menyaring Pertemanan Demi Kesehatan Mental

Toxic Relationship juga dapat merusak kesehatan-Ilustrasi -

Karena itu, penting untuk menyadari: apakah sebuah hubungan masih memberi kenyamanan atau justru menguras energi.

Ada satu tanda hubungan pertemanan yang kurang sehat. Yakni ketika interaksi yang terjadi lebih sering memicu stres, kecemasan, atau rasa tertekan dibandingkan rasa nyaman.

Contohnya adalah teman yang kerap meremehkan pencapaian orang lain, menyebarkan energi negatif, atau hanya hadir ketika membutuhkan bantuan.

BACA JUGA:Relationship Detox, Mengistirahatkan Diri dari Hubungan yang Melelahkan

BACA JUGA:Penelitian Ungkap Memesan Makanan atau Menyewa Jasa Bisa Membuat Hubungan Lebih Bahagia

Pola hubungan satu arah seperti itu dapat mengikis rasa percaya diri. Apalagi jika terjadi dalam jangka panjang.

Di era digital, tekanan sosial juga semakin terasa melalui media sosial. Tidak sedikit orang merasa terjebak dalam kewajiban semu.

Mereka terus mengikuti kehidupan orang lain secara daring. Akibatnya terjadi kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan.

Atau mempertahankan interaksi digital dengan orang yang sebenarnya sudah tidak memiliki kedekatan emosional di dunia nyata. Itu menjadi semakin umum.


kelelahan digital, hidup seimbang, screen time, kesehatan digital, gaya hidup sehat.--pinterest

BACA JUGA:Toxic Productivity, Ketika Obsesi Menjadi Produktif Berujung Burnout

BACA JUGA:Toxic Positivity: Ketika Ucapan Positif Terasa Negatif

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut tanpa disadari dapat menurunkan kualitas kesehatan mental.

Melakukan friendship cleanse biasanya dimulai dari refleksi sederhana. Cobalah mengevaluasi hubungan yang dimiliki saat ini.

Lalu perhatikan perasaan yang muncul setiap selesai berinteraksi dengan orang tertentu. Terlebih apabila sebuah hubungan secara konsisten memunculkan rasa lelah emosional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: