DPRD Gresik Dorong Wisata Religi, Berkembang Tanpa Kehilangan Nilai Spiritual
KOMPLEKS MAKAM SUNAN GIRI, salah satu destinasi wisata religi yang terkenal di Gresik.-Moch Sahirol Layeli-
DPRD Gresik memastikan pengembangan wisata religi akan menjadi salah satu prioritas untuk membangun kepariwisataan pada 2026–2040. Namun, peningkatan kunjungan wisatawan tidak boleh menggeser nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang selama ini menjadi identitas Kabupaten Gresik sebagai Kota Wali.
KETUA DPRD Gresik M. Syahrul Munir mengatakan, wisata religi merupakan salah satu kekuatan utama sektor pariwisata Gresik. Karena itu, pengembangannya harus dilakukan secara terencana agar mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga marwah situs-situs bersejarah.
"Yang ingin kita bangun bukan sekadar destinasi yang ramai dikunjungi. Wisata religi harus tetap menghadirkan suasana yang mencerminkan nilai sejarah dan spiritual. Justru itulah kekuatan yang dimiliki Gresik," ujarnya kepada Harian Disway.
Menurut Mujid, DPRD menggagas pedoman tata kelola pariwisata selama 15 tahun mendatang. Sehingga, muncul regulasi yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan sektor pariwisata yang lebih adaptif terhadap perkembangan daerah.
BACA JUGA:DPRD Gresik Gagas Sinergi Wujudkan Destinasi Wisata Nasional
BACA JUGA:DPRD Gresik Dorong Pelaku Usaha Kantongi Sertifikat Halal
Syahrul yang juga politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menjelaskan, Gresik memiliki modal besar dalam pengembangan wisata religi. Mulai kawasan Makam Sunan Giri, Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, Makam Siti Fatimah binti Maimun hingga berbagai situs sejarah Islam lainnya yang telah lama menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.
Karena itu, DPRD memandang pelestarian kawasan bersejarah harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan pariwisata.
"Kalau nilai sejarah dan religiusnya hilang, maka daya tarik utamanya juga akan berkurang. Pengembangan harus dilakukan secara seimbang antara peningkatan fasilitas dengan pelestarian kawasan," katanya.
Menurut Syahrul, DPRD tidak menginginkan pengembangan wisata hanya berorientasi pada aspek komersial. Sebaliknya, seluruh proses pembangunan harus menjaga keaslian kawasan sehingga pengalaman spiritual yang dirasakan para peziarah tetap terpelihara.

PARA PEZIARAH mengunjungi makam Sunan Giri, Sabtu, 27 Juni 2026.-Moch Sahirol Layeli-
Ia menilai kualitas destinasi jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar tingginya angka kunjungan wisatawan.
"Kami ingin wisatawan datang karena memang merasakan nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Kalau kualitas kawasan terjaga, pengunjung akan datang dengan sendirinya dan manfaat ekonominya juga akan berkelanjutan," ujarnya.
Komitmen tersebut sejalan dengan substansi gagasan bahwa pembangunan kepariwisataan harus menghormati norma agama, nilai budaya lokal, serta dilaksanakan berdasar prinsip pembangunan berkelanjutan. Sehingga muncul kebijakan yang berfokus tata kelola yang baik, pelestarian lingkungan, serta sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: