Ketika Demokrasi Kehilangan Kepercayaan
ILUSTRASI Ketika Demokrasi Kehilangan Kepercayaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Sebaliknya, melalui klaim wamenlu, sebagai pribadi, terhadap inisiasi Aksi Kamisan justru kontras berbanding terbalik oleh konsistensi peserta aksi.
Ketika masyarakat tidak melihat hubungan yang nyata antara penyampaian aspirasi dan perubahan kebijakan, kepercayaan terhadap proses dialog perlahan menurun.
Karena itu, penolakan sebagian kelompok masyarakat untuk berdialog tidak dapat semata-mata dibaca sebagai penolakan terhadap demokrasi. Dalam banyak kasus, penolakan tersebut merupakan ekspresi ketidakpercayaan terhadap efektivitas dialog itu sendiri.
BACA JUGA:Demokrasi Sasetan: Murah, Instan, tetapi Bikin Kembung
BACA JUGA:Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma
Di sisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa tidak semua forum dialog berlangsung dalam posisi yang setara. Teori kekuasaan Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa setiap ruang sosial selalu diwarnai oleh distribusi modal yang tidak seimbang.
Ketika seorang pejabat publik bertemu mahasiswa dalam sebuah forum, keduanya tidak memasuki arena dengan sumber daya yang sama.
Pejabat negara membawa legitimasi institusional, akses terhadap data, sumber daya komunikasi negara, serta otoritas simbolis yang melekat pada jabatannya. Sebaliknya, mahasiswa dan warga biasa umumnya hanya membawa pengalaman empiris dan argumentasi normatif yang lahir dari keseharian mereka.
Karena itu, menghadirkan kedua pihak dalam satu ruangan tidak secara otomoatis menghasilkan dialog yang setara.
BACA JUGA:Demokrasi Lokal Tanpa Pemilih?
BACA JUGA:Gen Z: Denyut Digital Demokrasi
Distorsi Ruang Publik Digital
Kondisi tersebut makin rumit ketika ruang publik digital yang diharapkan menjadi arena demokratis justru mengalami distorsi baru. Media sosial memang memperluas partisipasi publik.
Akan tetapi, algoritma platform, keberadaan jaringan pemengaruh politik, pendengung, dan praktik komunikasi yang terkoordinasi telah mengubah ruang digital menjadi arena berebut perhatian dan engagement, bukan pencarian kebenaran bersama.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial cenderung membentuk echo chamber, yakni situasi ketika individu lebih sering berinteraksi dengan informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri sambil menghindari pandangan yang berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: