Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi (3)

Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi (3)

ILUSTRASI Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi (3).-Arya/AI-Harian Disway-

Berbagai kekeliruan dalam tulisan tersebut menyangkut ketiadaan persetujuan etik, ketiadaan persetujuan dari subjek, pemalsuan data pasien, pengubahan data laboratorium, cacat metodologis karena tidak menggunakan kelompok kontrol, dan sebagainya.

Salah seorang yang paling berjasa membongkar kepalsuan tulisan Wakefield adalah wartawan Sunday Times bernama Brian Deer. Melalui penelitian selama sekitar 2 tahun, ia membuka seluruh borok dan memublikasikannya secara terus-menerus. 

Wakefield sendiri melakukan jumpa pers saat tulisan kontroversial miliknya terbit. Pendekatan melalui media dan konferensi pers bukan jalur lazim bagi dunia kedokteran sehingga tidak heran muncul banyak tuduhan sesudahnya. 

Masih ada lagi alasan ekonomi yang menjadi pendorong dibuatnya tulisan tersebut. Wakefield merasa tulisan tersebut akan membuka jalan bagi metode diagnostik autis yang akan memberikan tambahan penghasilan puluhan juta dolar. 

Ia juga memperhitungkan kemungkinan menuntut perusahan vaksin guna memperoleh tambahan uang. Keterlibatan wartawan membuka mata banyak orang bahwa perang terhadap tulisan yang keliru bisa dilakukan oleh banyak pihak. (*) 

*) Dominicus Husada adalah guru besar dalam ranting ilmu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dari FK Unair/RSUD dr. Soetomo, Surabaya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: