Jangan Asal Makan, Ini Asupan yang Cocok untuk Buka Intermittent Fasting
REKOMENDASI makanan yang cocok untuk awali jendela makan saat intermittent fasting.--unsplash.com
Kebutuhan itu cocok bagi orang-orang yang sedang menjalani intermittent fasting dengan tujuan mengatur berat badan.
3. Protein Tanpa Lemak
Selain telur, sumber protein lain seperti ikan, dada ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau yogurt tinggi protein juga bisa menjadi pilihan.
Protein membantu tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga keinginan untuk makan berlebihan bisa ditekan secara maksimal.
BACA JUGA:Rahasia Diet Sukses: Ganti Gorengan dengan Keripik Ubi Oven Baked
BACA JUGA:Rekomendasi Masakan Low Carbon Footprint, Diet Sehat di Hari Bumi 2026

UMBI-UMBIAN mengandung karbohidrat alami yang dibutuhkan tubuh untuk memulihkan energi setelah puasa berjam-jam.-Micka Randrianjafisolo-Pexels
4. Karbohidrat Kompleks
Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi. Namun, pilihlah karbohidrat kompleks seperti oatmeal, nasi merah, ubi, kentang rebus, atau roti gandum.
Jenis karbohidrat tersebut dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
5. Sayuran
Lengkapi menu berbuka dengan sayuran seperti bayam, brokoli, wortel, atau selada. Kandungan seratnya membantu melancarkan pencernaan sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.
6. Lemak Sehat
Alpukat, almond, kenari, atau kacang tanah dapat menjadi pelengkap menu berbuka. Makanan ini mengandung lemak tak jenuh yang baik bagi tubuh sekaligus membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama.
BACA JUGA:5 Pengganti Camilan Manis untuk Diet Pemula, Berat Badan Lebih Terjaga
BACA JUGA:Mengenal Diet Naturopati: Gerakan untuk Kembali ke Pola Makan Alami
Cleveland Clinic mengutip Julia Zumpano, ahli gizi, yang mengingatkan bahwa intermittent fasting bukanlah penundaan untuk mengonsumsi makanan dengan bebas.
"Puasa dapat menjadi cara yang baik untuk meningkatkan kesehatan jika dilakukan dengan benar. Namun, bila dijalankan secara tidak tepat, justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan," ujarnya.
Karena itu, dia menyarankan agar metode intermittent fasting disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Selain itu, juga mudah dijalani dalam jangka panjang dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harvard health